Righ Header

Guru, Jangan Abaikan Kami!!

sumber: google.com


Kondisi pandemi yang sudah berlangsung selama kurang lebih 6 bulan ini berhasil mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap seluruh elemen kehidupan manusia di seluruh dunia. Tak terkecuali bangsa Indonesia. Salah satu sektor yang paling terpengaruh adalah pendidikan. Kondisi yang sedemikian mendesak mengharuskan pemangku kebijakan dalam hal ini menteri pendidikan dan kebudayaan untuk segera bergerak cepat dengan memutuskan pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR). Perubahan yang sedemikian cepatnya ini lantas menimbulkan efek kejut bagi masyarakat luas, utamanya peserta didik, guru, dan juga wali murid sebagai pihak yang paling merasakan dampaknya. Apalagi melihat tren kenaikan positif corona di Indonesia yang hingga kini tidak kunjung menunjukkan penurunan yang signifikan. Bukan tidak mungkin jika pembelajaran dari rumah ini akan berlangsung dalam waktu yang lama. Tentunya hal ini akan semakin merubah pola pembelajaran dan pendidikan di Indonesia kedepannya. Bila hal ini tidak disiapkan secara serius dan secara  matang oleh pihak yang berwajib, maka nasib peserta didik sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan akan mengkhawatirkan.

Pelaksanaan belajar dari rumah membawa konsekuensi yakni sekolah meniadakan proses tatap muka secara langsung di sekolah. Lantas bagaimanakan proses pembelajaran bisa tetap dilaksanakan? Jawabannya adalah melalui online, Yaps, pembelajaran online menafikkan proses tatap muka secara langsung, sehingga bertatap muka dengan gawai asal  memiliki jaringan internet sudah cukup untuk melangsungkan sebuah pembelajaran. Ditengah perkembangan teknologi yang pesat ini, sudah tidak sulit lagi untuk menemukan berbagai macam aplikasi penunjang pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi guru maupun peserta didik. Sebut saja aplikasi Whatapps, Google Classroom, Edmodo,Youtube dan sebagainya. Masing-masing aplikasi menawarkan pengalaman belajar yang menarik dengan berbagai fitur yang mempermudah pembelajaran. Sehingga pembelajaran dari rumah tetap bisa dilaksanakan. Pembelajaran yang biasa dilaksanakan secara konvensional berubah menjadi pembelajaran secara daring melalui jaringan internet. Tentunya kebijakan ini dirasa perlu untuk menekan laju penyebaran virus corona, karena diharapkan perkumpulan manusia secara masif akan berkurang, namun disatu sisi pembelajaran daring juga tetap menimbulkan  efek buruk yang lainnya.

Dibalik beragamnya kemudahan yang ditawarkan oleh berbagai aplikasi tersebut, masih banyak oknum guru yang tidak bersungguh-sungguh dalam mengajar dan menididk siswa-siswanya. Alih-alih terkendala jarak, kondisi, dan bisa menggunakan internet sebagai ganti media  pembelajaran, guru hanya berkutat pada pemberian materi mentah yang disodorkan kepada peserta didik  lalu memberi setumpuk tugas tanpa mengetahui apakah murid-muridnya sudah benar-benar paham akan pelajaran yang dipelajari. Selain itu, hal ini membuktikan bahwa hanya faktor kognitif saja yang diperhatikan, di lain sisi ranah spiritualitas dan afektif terasa terabaikan.  Di lain pihak, siswa yang dibebani dengan pelajaran dan tugas online otomatis akan memiliki waktu lebih lama memegang gawai mereka, alih-alih digunakan untuk mengerjakan tugas sebaliknya banyak anak-anak malah asyik  menggunakannya untuk membuka sosial media maupun  game, di sinilah bukti bahwa masih banyak anak-anak kita yang belum bisa menggunakan internet secara sehat. Di satu pihak orang tua yang bertindak sebagai wali murid yang sedianya bertanggungjawab dalam membantu proses belajar buah hatinya di rumah  malah kewalahan dan kesulitan dalam mendampingi pembelajaran anaknya.  Mereka sibuk dengan tugas kerjanya masing-masing, banyak oknum orang tua yang abai terhadap pembelajaran putra-putrinya, ditambah lagi orang tua   tidak terlibat dalam pengawasan terhadap pemakaian gawai beserta internet, sehingga anak menjadi bebas dan menyalahgunakan pemakaian internet untuk hal-hal negative yang jauh dari nilai pembelajaran. 

Baca juga: 

Dampak Pandemi COVID-19: Intip Cara Jitu Belajar di Rumah, "Relax Study"

APLIKASI GAME EDUKATIF UNTUK MENGATASI GABUT

Dalam ranah pembelajaran online, guru otomatis tidak diberi ruang untuk mengamati dan mendidik anak didiknya secara langsung dan nyata. Sehingga ranah spiritual dan afektif anak tidak tergarap secara maksimal. Banyaknya kasus  anak yang malas, dan kesulitan dalam belajar, penyalahgunaan  gawai untuk sosmed dan game adalah buah dari ketidakhadiran guru sebagai tokoh sentral yang bertugas mendidik mereka dalam proses belajarnya. Walaupun pada kenyataannya orang tua dapat mengisi peran ini, namun perlu diakui bahwa pihak yang paling berkompeten dalam hal ini tetaplah seorang guru. Bukankah itu sebabnya orangtua menitipkan pendidikan formal anaknya kepada bapak atau ibu guru di sekolah? Oleh karenanya, untuk mengurai dan memecahkan permasalahan ini  guru harus  tetap berusaha memberikan pendidikan terkait ranah spiritualitas, kognitif, afektif, dan keterampilan siswa secara seimbang meskipun tantangannya terkendala dari jarak dan ketiadaan tatap muka secara nyata kepada siswa. Untuk menyiasati hal ini, guru harus berkomunikasi secara aktif kepada orang tua siswa secara berkelanjutan. Guru dapat membangun hubungan saling percaya dan membantu terhadap problem belajar siswa dirumah dengan mengandalkan kehadiran orang tua di proses belajar anaknya. 

sumber: google.com

Melihat perkembangan situasi yang sudah sedemikian berkembang, pemerintah telah mengkampanyekan perilaku kebiasaan baru yang memperbolehkan kegiatan tatap muka secara langsung tentunya dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan yang ada. Dengan berbekal mengenakan masker, rutin mencuci tangan dengan hand sanitizer atau sabun tangan, serta tetap menjaga jarak aman maka tidak ada alasan bagi seorang guru untuk tidak melakukan door to door ke rumah masing-maisng anak didiknya. Diharapkan dengan kehadiran guru secara langsung dihadapan anak, meskipun dengan tenggat waktu yang tidak lama akan memberikan udara segar bagi anak dalam merefresh kembali ingatan  tentang sekolah, sehingga diharapkan kesadran belajar akan muncul kembali di sanubari anak. Kesempatan tersebut juga dapat digunakan guru dalam mencoba memahami bagaiamanakah kesulitan anak didiknya dalam belajar, siswa juga dapat dipersilahkan untuk menayakan hal apa saja yang dirasa belum ia pahami selama ini. Di satu sisi, momen ini juga menjadi langkah starategis bagi guru dalam mengkomunikasikan dan sharing mengengai tumbuh kembang anak, parenting, dan juga starategi belajar dan mengajar kepada orang tua siswa, sehingga diharapkan semakin terjasi sinergitas anatara dua pihak guru dan wali murid dalam bersama-sama mengawal proses belajar anak. Termasuk sinergitas dalam menanamkan aspek-aspek spiritualitas, afektif, dan keterampilan siswa yang dapat diinisiasi oleh orang tua siswa sendiri sebagai pihak yang memiliki kesempatan untuk belajar secara langsung bersama anaknya di rumah.

Pada akhirnya, dengan adanya pandemi ini seharusnya tidak menjadi halangan untuk terus melanjutkan kehidupan, termasuk dalam hal ini pendidikan dalam hal ini pembelajaran.  Jusru sebaliknya, pandemi ini menantang  segenap stakeholder pendidikan untuk berbuat kreatif dan inovatif, sehingga pembelajaran dapat terus dilaksanakan dengan tanpa melanggar protokol kesehatan yang ada. Adanya hambatan dan kekurangan merupakan sebuah kepastian dari setiap progam yang dijalankan, namun percayalah ada bermacam solusi yang tetap bisa digunakan agar progam pembelajaran ini dapat semakin berjalan secara baik kedepannya. Salam pendidikan! (slm).

Post a comment

0 Comments