Righ Header

Sinergi antara Siswa, Guru, dan Orang Tua dalam Pendidikan

Dunia pendidikan merupakan dunia penentu masa depan bagi bangsa. Globalisasi secara tidak langsung telah mengajak seluruh atmosfer bumi untuk bergerak mengikuti langkah cepatnya. Arus komunikasi dan teknologi semakin berkembang dalam era globalisasi. Hal tersebut juga berpengaruh dalam pola pikir dari masyarakat. Awalnya semuanya sangat sulit didapatkan, hingga saat ini semuanya ada hanya dalam genggaman jari. Bahkan zaman saat ini bisa disebut sebagai zaman generasi Z (anak-anak yang lahir pada tahun 2000-an), dimana generasi muda sudah mulai canggih dalam mengakses segalanya. Semakin pesat kemajuan teknologi, berarti semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi dalam segala bidang. Salah satunya yaitu dalam bidang pendidikan.
sumber gambar: laboratoriumpendidikan.blogspot.com
Pepatah mengatakan bahwa “Ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya”. Jika melihat pepatah di atas, maka kita dapat menarik tiga kata inti, yaitu Ibu (Orang Tua), madrasah (sekolah dan guru), dan anak-anak (Siswa). Orang tua tentu harus selalu mengetahui bagaimana keadaan anaknya. Begitulah peran orang tua dalam rangka membentuk pribadi anak. Lantas, haruskah orang tua selalu menerapkan “sistem madrasah” itu sampai kelak sang anak telah dewasa? Orang tua yang baik adalah orang tua yang selalu menjadi tempat berbagi serta tempat berteduh dalam segala kondisi anak. Dengan begitu, peran orang tua sangat besar, terutama dalam membentuk kepribadian anak. Saat zaman sudah semakin maju, saat itu pula orang tua harus siap untuk menghadapi tantangan yang lebih besar. Tantangan tersebut bukan tantangan yang harus dilawan dengan senjata tajam, namun dengan dilawan dengan perhatian. Perhatian orang tua memang sering dianggap hal sepele, namun ternyata perhatian itulah yang memegang andil yang kuat dalam pembentukan karakter anak. Karena semakin maju teknologi, maka anak pun akan semakin lihai. Bila tidak ada perhatian cukup dari orang tua

Sementara itu, guru juga memiliki andil dalam suatu pembelajaran. Guru seharusnya bijaksana dan memiliki otoritas tinggi dalam membentuk pola pikir siswa. Sejatinya guru tidak boleh bermain tangan dengan siswa. Maka guru harus kreatif dalam menciptakan nuansa yang menyenangkan dengan siswa. Pemberian tugas untuk siswa dikatakan sangat perlu, bahkan sangat dianjurkan walaupun memang ada unsur “paksaan” di dalamnya. Terlebih lagi, siswa era digital ini sudah banyak mengenal banyak hal yang didapatkan dari media digital. Guru tentu tidak boleh kalah “tau”. Siswa tau angka 1, maka guru harus tau lebih dari angka 1. Semakin maju dan pesat perkembangan teknologi, maka semakin kritis pula siswa tersebut. Bukan hanya ilmu yang bersifat teoritis saja, namun juga ilmu yang bersifat praktis dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga guru tidak hanya menguasai ilmunya, namun juga mampu menerapkan metode yang tepat untuk siswa yang heterogen. 

Seperti yang dilansir dari halaman kemdikbud.go.id, bahwa:

Di masa digital native ini, anak-anak yang lahir dengan kondisi sudah ada gawai dan interne, dengan total penggunaan tujuh jam sehari, permasalahannya bukan pada gawainya, tetapi pada bagaimana kita menyiapkan anak-anak kita dengan cara terbuka dan terpercaya, karena di gawai itu terdapat banyak tawaran, tinggal bagaimana kita memilihnya.”ujar Fauzil Adhim.
Gawai atau dalam bahasa Inggris sering disebut gadget adalah suatu piranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Sehingga kita tidak bisa menyalahkan keberadaan teknologi tersebut. Maka peran dari pola asuh orang tua sangat penting. Bukan berarti bahwa di sekolah siswa sudah diajarkan kemudian siswa saat di rumah tidak perlu diajarkan. Tetapi, saat di rumah pun siswa perlu perhatian mengenai apa saja yang ia dapatkan di sekolah, bagaimana teman-temannya, lingkungan sekitarnya, dan sebagainya. Apalagi sistem Full Day School saat ini sedang digadang-gadang oleh kebanyakan sekolah. Boleh saja anak-anak di-sekolahkan di sekolah bersistem Full Day School. Namun, orang tua juga harus melihat kemampuan anak. Terlebih guru yang mengajar dalam sistem Full Day School. Guru juga dituntut untuk memiliki skill yang tepat dalam menyatukan alam pikir antara siswa dan guru saat di kelas.

Penulis:
Rizka Hidayah

Post a Comment

0 Comments