Righ Header

Peran Pendidikan di Era MEA

Pertempuran pasar Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah mengepakkan sayapnya sejak tahun 2015, hingga saat ini. Persaingan pun semakin ketat antar negara asean, mobilitas ekspor impor barang ke dalam negeri maupun luar negeri begitu mudah. Di Indonesia berbagai macam produk impor luar negeri sudah merajalela di pasaran dengan harga yang menggiurkan dan berkualitas baik, sehingga daya minat konsumen cukup tinggi.

Bagaimana dengan nasib produk Indonesia? Sektor perekonomian menjadi pemicu utama terhadap kemunculan MEA. Kini saatnya Indonesia memamerkan produk lokal untuk dipasok ke dalam negeri maupun luar negeri, agar kompetisi MEA ini dapat ditaklukan oleh pengusaha-pengusaha Indonesia. Pemerintah Indonesia telah mempersiapkan arena pertandingan dengan strategi yang berwarna-warni untuk tetap mempertahankan negara tercinta. Pendidikan di era MEA ini pun ikut andil untuk menghadapi “liberalisasi pendidikan”, agar pendidikan Indonesia dapat bersaing dalam tantangan global.

Pendidikan di era MEA


Menurut kombinasi prediksi, di satu sisi liberalisme merupakan peluang untuk meningkatkan pendidikan dengan memanfaatkan lembaga-lembaga pendidikan asing sebagai mitra kerja, akan tetapi pada sisi lain menjadi permasalahan, sebab prestasi akademik kita jauh tertinggal di bawah negara-negara yang pendidikannya lebih maju seperti Amerika, Hongkong, Jepang, Korea Selatan dan Australia. Bahkan kualitas pendidikan kita masih dibawah negara-negara ASEAN, seperti Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia. Dari prediksi tersebut harus di tindaklanjuti lebih serius, antara pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama untuk membangun pendidikan Indonesia, karena masih banyak permasalahan terkait kualitas guru, kurikulum yang bermasalah, kemiskinan pendidikan, bahkan anak-anak jalanan dan perbatasan yang belum tersentuh pendidikan dan tenaga pengajar. Sedangkan pada era MEA ini, Indonesia membutuhkan orang-orang yang berpendidikan dan bertanggungjawab untuk melumpuhkan negara-negara yang ingin menguasai Indonesia.

Hasil laporan Indeks Pembangunan Manusia 2015 yang dikeluarkan Badan PBB Urusan Program Pembangunan (UNDP) baru-baru ini menyatakan Indonesia sebagai negara berkembang terus mengalami kemajuan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menempati peringkat ke 110 dari 187 negara, dengan nilai indeks 0,684. Jika dihitung dari sejak tahun 1980 hingga 2014, berarti IPM Indonesia mengalami kenaikan 44,3 persen.

Mengacu pada faktor penentu kemajuan suatu negara yaitu, penguasaan inovasi (45%), penguasaan jaringan/networking (25%), penguasaan teknologi (20%), serta kekayaan sumber daya alam hanya (10%), maka pendidikan di Indonesia harus lebih menekankan pada tiga kemampuan tersebut. Pemerintah harus mampu menyiapkan sekolah-sekolah khusus yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja, misalnya sekolah pertanian, sekolah peternakan, sekolah perikanan, sekolah teknik mesin, sekolah teknik bangunan, sekolah pemasaran, dan sebagainya. Sekolah-sekolah tersebut harus benar-benar mampu membekali kompetensi untuk berinovasi.

Disamping itu, peningkatan peran pemerintah dalam menyelesaikan masalah pendidikan, yaitu dengan mengalokasikan anggaran pendidikan yang memadai disertai dengan pengawasan pelaksanaan anggaran, agar benar-benar dimanfaatkan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Pemerintah juga harus lebih memperhatikan kualitas, distribusi serta kesejahteraan guru di Indonesia, karena guru merupakan salah satu tonggak untuk mendukung jalannya pendidikan, dan sangat berperan penting dalam menciptakan siswa yang cerdas, terampil, bermoral dan berpengetahuan luas. Dengan demikian, apabila pendidikan di Indonesia mampu membekali siswa dengan pengetahuan, moral, dan keterampilan yang memadai, maka lulusan pendidikan Indonesia akan memiliki rasa percaya diri serta motivasi yang tinggi untuk mampu bersaing secara global menghadapi MEA.

Post a Comment

0 Comments