Righ Header

Pentingnya Pembinaan Moral Guru Sekolah Dasar

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia yang dapat dipandang sebagai suatu investasi untuk masa depan yang lebih baik yang tidak ternilai harganya. Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang akan terus berkembang, sebagai usaha untuk membentuk suatu kepribadian dengan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat dan kebudayaan yang ada. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan menjadi suatu keharusan untuk selalu mengikuti tuntunan dan perkembangan serta perubahan yang terjadi dengan cepat dalam masyarakat.

Peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari keberadaan dan peran dari seorang guru. Dalam melaksanakan perannya tersebut seorang guru dituntut untuk memiliki moral kerja yang baik. Ini dikarenakan, guru merupakan sosok yang akan menjadi model bagi anak didiknya. Ini sesuai dengan pendapat Roqib dan Nurfuadi yang menyatakan guru adalah seorang panutan yang harus “digugu dan ditiru” dan sebagai contoh bagi kehidupan dan pribadi peserta didiknya, dalam artian baik atau buruknya perilaku yang ditampilkan oleh anak didik merupakan cerminan dari gurunya.
https://4.bp.blogspot.com/-I_92Cy7W2QI/VzUybTH912I/AAAAAAAADqE/hB_uHmNL8WwEyngr6DZtgBXZrPRqx4uqwCLcB/s1600/images.jpg
http://www.gurukupintar.com

Begitu pentingnya peranan guru, sehingga guru dituntut untuk memiliki moral yang baik. Moral merupakan suatu sikap dan tingkah laku yang terwujud dalam perbuatan. Tinggi atau rendahnya moral guru dipengaruhi oleh banyak faktor. Pemberian binaan atau pembinaan terhadap guru merupakan salah satu faktor yang ikut mempengaruhi moral yang dimiliki oleh guru. Dalam artian jika pembinaan yang diterima oleh guru baik, maka diduga moral pun akan menjadi baik. Moral seorang guru salah satunya ikut dipengaruhi oleh pembinaan yang dilakukan terhadap guru tersebut. Pembinaan adalah upaya yang dilakukan secara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Sedangkan moral adalah seperangkat ide, nilai, ajaran, prinsip, atau norma. Moral juga sering dimaksudkan sudah berupa tingkah laku, perbuatan, sikap atau karakter yang didasarkan pada ajaran, nilai, prinsip, atau norma.

Profesi sebagai guru membutuhkan orang-orang terbaik dan professional secara intelektual dan moral. Artinya, guru harus memiliki berbagai kompetensi yang dibutuhkan seperti kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Dengan kata lain, tidak sembarang orang dapat menjadi guru. Seorang guru yang profesional diharapkan mampu berkontribusi positif dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu. 

Untuk mengangkat harkat dan martabat suatu bangsa, pendidikan menempati urutan utama dibandingkan dengan sektor lain. Dengan pendidikan sumber daya manusia (SDM) dapat dibangun, kecerdasan bangsa dapat ditingkatkan dan kesejahteraan dapat direntangkan ke seluruh lapisan masyarakat. Dengan kata lain pendidikan adalah faktor utama dalam menguak kemajuan bangsa. Predikat guru menunjukan keprofesionalan seseorang pada bidangnya yang bukan hanya bertugas mengajar tetapi juga mendidik dengan moral yang baik. Profesi ini tentu didapatkan secara instan tetapi melalui rangkaian proses penguasaan ilmu atau melalui pendidikan khusus seperti pendidikan keguruan. 

Namun kenyataannya, cita-cita bangsa mewujudkan pendidikan bermutu malah melenceng dengan banyaknya permasalahan-permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan belakangan ini. Banyaknya guru yang asal jadi, bermodalkan ijazah namun kurang mendalami kompetensi professional dan bermoral sebagai seorang pendidik membuat sedikit potret pendidikan negeri ini menjadi buram. 

Beberapa ekses negatif tentunya ditimbulkan dari kurangnya kedisiplinan dan pemahaman etika sebagai seorang pengajar yang sering kali diabaikan sebagian guru. Permasalahan yang begitu fatal adalah saat dimana kebanyakan orang yang mengambil pendidikan keguruan bertujuan untuk mengejar target menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bukan pada subtansi yang diharapkan, menjadi sepenuhnya sumber daya pengajar yang profesional yang benar-benar berorientasi pada profesi yang sebenarnya sebagai pendidik.

Padahal, konsekuensi dari diakuinya guru sebagai profesi, tentunya bertujuan agar guru mampu menjelma sebagai tenaga pendidik yang professional, memberikan pendidikan yang bermutu dan tentunya sangat tergantung pada kapasitas satuan-satuan pendidikan dalam mentranformasikan peserta didik untuk memperoleh nilai tambah, baik yang terkait dengan aspek olah pikir, rasa, hati, dan raganya. Bukan hanya sekedar mengajar materi pelajaran, guru juga harus menjadi teladan bagi peserta didiknya. 

Di tingkatan sekolah dasar pun banyak terjadi beberapa kasus moral. Bahkan guru sendiri yang menjadi pelaku dan peserta didiknya yang menjadi korban. Banyak guru menjadi pelaku kriminal, pelaku tindakan asusila, dan pelaku tindakan bejat lainnya. Sebagaimana yang diberitakan dalam surat kabar maupun media massa mengenai bobroknya moral guru di SD dibawah ini

TIMESINDONESIA, SUMENEP - Sumenep District Council Pendidikan (DSWD), Madura, Jawa Timur, mengevaluasi guru membolos sengaja tidak mengajar alias tanpa jelas alasan sebagai kejahatan intelektual.” (Times Indonesia)

Sukabumi - Tuber Romson, guru SMP I Bojonglompang, Jampang Tengah, Sukabumi, Jawa Barat, menghujamkan tujuh tusukan ke tubuh muridnya, Rian Herdiyana (13). Aksinya baru berhenti setelah sebilah bambu mendarat di tangannya.” (Detik News)

Merdeka.com - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Pantoro menyesalkan tindakan EW (56), seorang guru SD yang melakukan tidak pencabulan terhadap anak didiknya sendiri. Dia mengaku sudah mengetahui kabar tersebut dari sekolahan bersangkutan melalui surat yang ditujukan ke kantornya.” (Merdeka)

VIVA.co.id - Guru olahraga SD Negeri 026 Pematang Reba, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, ditahan Polres Indragiri Hulu. Sebabnya, guru 28 tahun berinisial A tersebut melakukan pencabulan kepada anak-anak didiknya. Korban yang sudah melapor sementara ini enam orang. Mereka adalah siswi kelas III dan IV berinisial B, F, Z, M, A dan N.”(Viva)

Kasus diatas menunjukkan bobroknya moral guru SD di beberapa daerah di Indonesia. Krisis maupun degradasi moral guru yang menyebabkan bobroknya moral guru menuntut adanya suatu perhatian serius dari semua pihak. Pembinaan moral guru sekolah dasar dirasa kuat dapat dijadikan sebagai solusi. Karena guru juga harus dibina agar guru tetap bisa jadi sosok yang digugu dan ditiru bagi peserta didiknya. 

Model pembinaan moral guru sekolah dasar didasari oleh beberapa pendekatan, antara lain dikemukakan oleh Sri Winarni melalui pemodelan atau belajar observasional; dan sosial-psikologis. Model pembinaan moral bagi guru di tingkat sekolah dasar dipertimbangkan sesuai dengan situasi dan kondisi guru SD yang bersangkutan. Untuk itu, model yang dapat dipergunakan perpaduan antara pemodelan dan consideration model. Implikasi model itu akan mewarnai di dalam materi dan cara penyajian modul. Adapun modul yang meliputi isi pesan, cara penyajian pesan, kejelasan dan contoh-contohnya sebagai aktualisasi model yang akan digunakan. Perpaduan model tersebut dimediasi melalui penciptaan modul. Modul yang dikembangkan sebagai pegangan guru atau pedoman guru dalam pembinaan moral bagi dirinya. 

Modul dipilih untuk memediasi model pembinaan moral guru SD, karena modul sebuah bahan ajar yang dikembangkan secara sistematis untuk belajar secara mandiri. Penyusunan modul pada model pembinaan moral guru SD tahap penelitian ini masih bersifat untuk pegangan penatar. Hal itu dimaksudkan agar penatar memiliki pegangan sebagai contoh pembelajaran. Selanjutnya, penatar dapat mengembangkan sendiri model pembinaan moral guru SD tersebut. Alasan tersebut didasari oleh kelebihan dari sifat modul. Hal tersebut di antaranya disebut oleh Andi Prastowo dirancang untuk sistem pembelajaran mandiri; merupakan program pembelajaran yang utuh dan sistematis; mengandung tujuan, bahan atau kegiatan, serta disajikan dengan bahasa komunikatif. Seolah perancang modul berkomunikasi bagi pengguna untuk mengajak belajar. Dalam hal ini peneliti mengajak kepada pakar pendidikan, pakar psikologi, pakar sosiologi, pakar keagamaan dan khususnya guru untuk mengembangkan model pembinaan moral guru SD.

Post a Comment

0 Comments