Righ Header

Memahami Neurosains Pembelajaran

neurosains pendidikan islam

Optimalisasi otak pada dasarnya adalah menggunakan seluruh bagian otak secara bersama-sama dengan melibatkan sebanyak mungkin indra secara serentak. Penggunaan berbagai media pembelajaran merupakan salah satu usaha membelajarkan seluruh bagian otak, baik otak kiri maupun otak kanan, rasional maupun emosional atau bahkan spiritual. Permainan warna, bentuk, tekstur dan suara sangat dianjurkan. Ciptakan suasana gembira karena akan merangsang keluarnya endorfin dari kelenjar di otak dan selanjutnya mengaktifkan asetilkolin di sinapsis. Seperti diketahui sinapsis yang merupakan penghubung antar sel saraf menggunakan zat kimia terutama asetilkolin sebagai neurotransmitternya. Dengan aktifnya aseltilkolin maka memori akan tersimpan dengan lebih baik. Lebih jauh suasana gembira akan mempengaruhi cara otak dalam memproses, menyimpan dan mengambil kembali informasi.

Secara umum ada 10 hukum dasar otak yang relevan dalam bidang pendidikan. Hukum-hukum itu antara lain: keunikan, kekhususan, sinergisitas, hemisferik dan dominasi, verba-grafis, imajinasi dan fakta, plastisitas sel saraf, kerja serempak, simbiosis rasio-emosi-spriritualitas, dan otak laki-laki otak perempuan. Otak bukan sekedar struktur (benda-organik), tetapi fungsi dan sifat. Karena itu, otak merupakan titik utama pengembangan manusia dalam bidang pendidikan. Tidak saja untuk belajar mengajar tetapi juga bagi pendidikan secara keseluruhan.


Ada banyak praktik pendidikan yang efek-efek positifnya terhadap pembelajaran didukung oleh penelitian pembelajaran maupun penelitian otak, antara lain:

A. Pembelajaran Berbasis Permasalahan

Peserta didik klas 8 telah belajar geografi dari negara bagian mereka yang mencakup karakteristik-karakteristik dari daerah-daerah utama dan kota-kota yang berada di negara bagian tersebut. Guru membagi peserta didiknya menjadi beberapa kelompok kecil untuk mengerjakan tugas menyelesaikan tugas berikut. Sebuah perusahaan komputer besar ingin membuka sebuah fasilitas manufaktur di negara bagian tersebut. Tugas masing-masing kelompok adalah membuat argumen yang meyakinkan mengapa fasilitas tersebut sebaiknya dibangun di wilayah tertentu. Faktor yang harus dipertimbangkan antara lain biaya, akses ke jalan besar dan airport, ketersediaan tenaga kerkja, kualitan sekolah-sekolah yang ada, jauh-dekatnya jarak ke fasilitas-fasilitas pendidikan tinggi, dan dukungan masyarakat.

B. Simulasi dan Permainan Peran

Peserta didik klas 5 telah membaca “Freedom on the Menu” karya Karole Boston. Sang Guru membahas buku ini dan mengajak para peserta didik membayangkan bagaimana perasaan para tokoh di dalam menghadapi diskriminasi terhadap mereka dengan mengadakan simulasi dan permainan peran dalam kelas. Pertama kali guru memilih para peserta didik perempuan untuk menjadi pemimpin sementara para peserta didik laki-laki mengikuti perintah mereka. Pada aktivitas kedua, guru hanya memilih peserta didik laki-laki yang bermata biru, dan aktivitas ketiga guru meminta semua peserta didik yang berambut gelap untuk duduk di bagian depan kelas. Melalui aktivitas ini guru bermaksud para peserta didik merasakan ketidakadilan.

C. Diskusi Aktif

Kelas kewarganageraan sedang mempelajari pemilihan presiden AS. Presiden-presiden dipilih melalui electoral vote. Ada periode-periode ketika presiden-presiden yang terpilih melalui electoral tidak mencapai mayoritas (50%) dari pemungutan suara oleh rakyat (popular vote) atau mendapat suara lebih rendah dari yang kalah. Sang guru mengadakan diskusi dengan topik “Haruskah presiden AS dipilih melalui pemungutan suara rakyat?”

D. Tampilan Visual

Seorang guru sekolah kejuruan menyuruh peserta didiknya merancang sebuah rumah. Sekolah mereka akan membeli tanah, seorang kontraktor lokal akan membangun fondasinya dan sebuah perusahaan penyelia bahan bangunan akan menymbangkan bahan kayu, instalasi listrik dan pipa-pipa. Peserta didik menggunakan tampilan gambar komputer untuk merancang berbagai gaya rumah dan penataan interior. Desain-desai kemudian dibicarakan di kelas, lalu sebuah rencana desain eksterior dan interior dipilih untuk dibangun.

E. Iklim yang Positif

Ada sekolah yang didesikasikan untuk peserta didik-peserta didik tidak mampu. Sang guru menciptakan iklim yang yang positif seperti kelas yang hangat dan menarik. Misalnya di dalam sekolah ada banyak tempat nyaman yang dapat digunakan untuk membaca, setiap hari guru berbicara dengan setiap peserta didik satu persatu untuk mengetahui apa yang terjadi dengan mereka (dimaksudkan para peserta didik mendapatkan perhatian).

Post a Comment

0 Comments