Righ Header

Idealitas Pendidikan Karakter

Di era globalitas dan kompleksitas Dunia saat ini, Indonesia direpotkan dengan pekerjaan rumah yang sangat beragam. Dari masalah pembangunan daerah, politik, HAM, ekonomi MEA, dan tingkat kriminalitas (tawuran, pembunuhan, pelecehan seksual, dan KORUPSI) yang semakin merajalela tak terbendung. Hal ini menyebabkan tatanan masyarakat Indonesia terasa terguncang hebat. Akibatnya pembangunan negara (nasional) menjadi terhambat dan terhalang guna bercita cita menjadi negara yang berkategori dan berlabel “negara maju”.

Akar dari problematika tersebut sebenarnya jika ditelisik dengan mendalam dan secara mendetail yaitu perhatian terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum diperhatikan dan teralokasikan dengan baik dan maksimal. Inilah yang memicu problem problem diatas muncul dengan mudahnya ibarat jamur yang tumbuh diatas tetumpukan jerami – jerami basah.

Dari hal tersebut diatas, dapat kita rumuskan bersama bahwa untuk menanggulangi dan mengurangi hal diatas tentu dibutuhkan pemecahan masalah yang serius, selalu diperhatikan dan kontinuisitas tindak lanjut yang harus selalu dikawal agar terbentuk nya manusia yang utuh dan baik sesuai dengan norma-norma kehidupan dan nilai-nilai ajaran agama.

Akibat problema –problema negara Indonesia saat ini yang semakin marak dan menggila baik melalui media televise, internet dan media cetak yang menggambarkan negatifitas negara yang belum mampu menerapkan dan menampilkan ajaran – ajaran luhur baik dari orang tua, guru, masyarakat, pemangku kebijakan, para penyebar ajaran agama, akhirnya Negara Indonesia belakangan ini wacana dan implementasi pendidikan karakter semakin diperhatikan dan digencarkan bagi kalangan kalangan pelajar dan mahasiswa dengan harapan bahwa akan terciptanya generasi yang unggul nan berakhlak.


Jika dilihat berdasarkan teori perkembangan bahwa watak dan karakter manusia itu dapat dilahirkan sejak mereka kecil. Itu artinya bahwa pendidikan karakter pun seharusnya digalakan juga bagi anak-anak kecil saat ini dengan harapan benih-benih manusia berkarakter pun dapat lahir sejak usia kecil. Implementasinya tentu dalam jenjang pendidikan dasar (PAUD dan TK) sudah seharusnya kurikulum diarahkan ke nilai-nilai karakter yang sangat serius untuk menjadi perhatian yaitu takwa, penyayang jujur, berani, dan bertanggung jawab serta menghormati (rasa toleran yang tinggi) atas perbedaan yang ada ditengah pluralitas Indonesia.


Perlu kita ketahui bersama bahwa usia anak balita merupakan “golden age” usia emas untuk melahirkan generassi muda dan penerus yang cerdas, kreatif, berani dan berbudi pekerti luhur, maka dari itu sudah seharusnya para orang tua dan lembaga pendidkan bersama-sama bersinergi membentuk generasi penerus yang unggul.

Salah satu Penerapan nya dalam membentuk karakter generasi penerus sejak dini bagi orang tua adalalah dengan selalu memberikan perhatian dan bimbingan “face to face “ kepada anak agar ia merasa selalu diperhatikan dan diberikan kasih sayang sehingga dalam dirinya tumbuh sifat-sifat saling menyayangi terhadap sesama. Kemudian dalam lembaga pendidikan sudah selayaknya guru dan kurikulumnya disesuaikan dengan karakter yang harus dimiliki di era modern saat ini dimana moralitas semakin merosot, yaitu nilai nilai karakter yang enam, yang sudah disebutkan diatas yaitu nilai karakter takwa, penyayang jujur, berani, dan bertanggung jawab serta menghormati (rasa toleran yang tinggi) atas perbedaan yang ada ditengah pluralitas Indonesia.

Nilai nilai pendidikan karakter itulah yang menjadi perhatian penting oleh para generasi muda, orang tua, guru, lembaga pendidikan dan Agamawan agar dapat menjadikan generasi penerus Indonesia saat ini unggul dan berbudi luhur dengan saling bersinergi, bekerja sama dan mendukung aktivitas yang mendukung terlaksananya pendidikan karakter ini.

Dan yang terpenting pula adalah Tindak lanjut pendidikan karakter itu dengan setiap harinya menanyakan kepada “anak kita / siswa” tentang perbuatan baik apa yang sudah dilakukannya hari ini- secara continue berkelanjutan.

Oleh: Nanda Nursyah Alam

Post a Comment

0 Comments