Righ Header

Prinsip Membangun Karakter Mulia bagi Seorang guru

Guru adalah figur paling berpengaruh bagi anak didik setelah orang tua. Meskipun intensitas pertemuan guru dengan siswa bisa dibilang tidak sebanyak dan selama dengan orang tua, namun guru mempunyai kontribusi yang besar bagi pembentukan karakter seorang siswa. Siswa memandang guru tidak hanya pada waktu guru menyampaikan materi pembelajaran, namun juga bagaimana seorang guru bersikap, bertutur kata, berkomunikasi dan berinteraksi baik kepada siswa, sesama guru atau bahkan ketika berada pada lingkungan masyarakat.

Beberapa kasus di lapangan menunjukkan bahwa guru masih rentan dengan perilaku dan akhlak yang tidak mencerminkan karakter mulia. Ada seorang guru yang tega memukul atau menghardik siswanya, ada guru yang justru melecehkan siswanya, ada juga guru yang mengeluarkan sumpah serapah atau ancaman kepada orang lain yang dianggap sebagai ancaman membahayakan hingga persoalan tersebut dibawa ke meja hukum. Sebenarnya kasus-kasus tersebut kalau dihitung secara matematis jumlahnya masih jauh lebih sedikit dibanding dengan guru-guru berprestasi yang mampu mengantarkan peserta didiknya menjadi pribadi berprestasi baik di tingkat sekolah maupun di masyarakat. Isu-isu seperti itu jauh lebih mudah untuk diangkat media sebagai konsumsi publik, sehingga kesan baik dan kepercayaan terhadap guru akhir-akhir ini cenderung menurun. Namun bagaimanapun juga guru memang harus memiliki karakter mulia yang tercermin dalam perkataan, sikap dan tindak-tanduknya sehari-hari. Dalam pandangan yang lebih umum, guru tidak hanya dipahami sebagai pengajar dan pendidik, namun ia juga merupakan sosok terhormat  yang diletakkan masyarakat pada level tertentu, terlebih lagi dalam hubungannya antara guru dan siswa.

Pendidikan karakter di sekolah

Guru sebagai pribadi yang dijadikan acuan dalam pembentukan karakter siswa sudah barang tentu wajib memiliki karakter mulia yang nantinya akan dilihat dan dijadikan nilai baru bagi siswa-siswanya. Guru yang hanya pandai menyampaikan materi pembelajaran tetapi tidak mempunyai karakter mulia akan dijauhi siswa, begitupun juga guru yang mempunyai karakter tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mengelola kelas pembelajaran dengan baik juga tidak akan menjadi guru yang banyak berpengaruh bagi siswa-siswanya.

Orang yang mempunyai kepandaian saja tetapi tidak mempunyai karakter yang baik bisa jadi akan menjadi orang yang membahayakan, karena kepandaianya bisa disalahgunakan untuk perbuatan destruktif atau perusakan. Sedangkan orang yang mempunyai kebaikan meskipun ia tidak begitu pandai masih lebih bagus karena setidaknya ia bisa memberikan suasana kondusif dan tidak membahayakan bagi orang lain. Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, tentunya guru haruslah orang yang pandai sekaligus berkarakter baik atau orang yang berkarakter baik tapi juga sekaligus pandai. Karena kebaikan dan kepandaian guru tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi apa yang dipunyainya adalah sesuatu yang harus diberdayakan bagi orang lain, yaitu siswa dan siswinya.

 

Pentingnya Membangun Karakter Mulia Seorang Guru

Karakter mulia mulia tercermin dari bagaimana seseorang berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya, baik melalui komunikasi, sikap, tutur kata, atau sekedar cara seseorang menyapa sesama. Pribadi yang memiliki karakter mulia akan membawa keteduhan bagi orang lain. Ia akan dianggap menjadi seseorang yang mendamaikan, seseorang yang gemar membawa kebaikan, bukan seseorang yang membuat orang lain merasa tidak tentram dan tidak tenang jika bersamanya. Karakter mulia juga akan menjadikan seseorang menjadi pribadi yang selalu dirindukan dan dinantikan kehadirannya, karena ia mampu menjadi sosok pribadi penuh solusi serta mampu membawa perubahan dan perkembangan yang lebih baik bagi orang-orang disekitarnya.

Seorang guru yang setiap harinya berinteraksi dengan siswa yang sedang mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan, maka tentunya karakter mulia ini penting untuk disematkan dalam kepribadiannya. Karakter guru akan dijadikan sebagai acuan siswa dalam pembentukan karakter dirinya. Siswa yang lebih mudah beradaptasi dengan nilai baru dalam hidupnya akan lebih mudah pula beradaptasi dengan karakter guru yang ditunjukkan dalam sikapnya sehari-hari ketika mereka berinteraksi. Disinilah pentingnya setiap guru memegang teguh karakter mulia dalam dirinya, karena karakter tersebut tidak hanya untuk dirinya tetapi juga akan berpengaruh bagi siswa-siswinya yang meurpakan generasi masa depan bangsa.

Karakter mulia seorang guru akan berdampak apada keberhasilan pembelajran di sekolah maupun dalam kontek keteladanan di masyarakat. Guru yang mempunyai karakter mulia akan menjadi sosok pribadi guru yang lebih dekat dengan siswa, lebih mudah berinteraksi dengan siswa, termasuk lebih mudah dalam mensukseskan proses pembelajaran dan internalisasi nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan. Guru yang mempunyai karakter mulia juga akan lebih mudah diterima oleh siswa, karena siswa merasa damai dan nyaman ketika harus berinteraksi dengannya baik dalam pembelajaran maupun dalam aktifitas sehari-hari.

Tiga Prinsip Membangun Karakter Mulia

Membangun karakter mulia seorang guru bisa dimulai dari tiga hal yang sangat prinsipil, yaitu kesadaran dan pemahaman akan makna tugas mendidik yang ia laksanakan. Mendidik hendaklah dimaknasi sebagi amanah, mendidik dimaknai sebagai karya, dan mendidik juga seharusnya dimaknai sebagai pemberdaya.

1) Mendidik sebagai Amanah

Guru adalah profesi, karena ia dituntut untuk melaksanakan tugas pengajaran sesuai dengan kurikulum dan perangkat pembelajaran yang telah dicanangkan oleh sistem pendidikan. Sehingga apa yang ia lakukan dalam pembelajaran harus sesuai dengan sistem yang telah ditentukan. Namun demikian guru juga bermakna sebagai amanah, artinya tugas pengajaran dan pendidikan adalah tugas mulia yang diemban seorang guru. Maka apa yang ia lakukan tidak akan sekedarnya saja, tetapi akan dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan perjuangan dan keseriusan dalam upaya membebaskan peserta didik dari ketertinggalan dan kebodohan.

Kesadaran dan pemahaman bahwa mendidika adalah sebuah amanah akan berkorelasi terhadap aktifitas dalam proses pembelajaran yang dilakukan seorang guru kepada siswanya, baik pembelajaran di ruang kelas, pembelajaran di luar kelas, maupun pembelajaran dalam kemasyarakatan. Guru yang mempunyai kesadaran dan pemahaman akan amanah ini, akan mendidik dirinya agar mempunyai karakter tangguh yang sanggup mengemban dan melaksanakan amanahnya sebaik-baiknya. Dengan demikian ia akan menjadi pribadi yang penuh semangat, penuh tanggung jawab, penuh dedikasi dan berdaya saing untuk mensukseskan amanahnya tersebut.

Baca Juga:
Cara Anak Belajar adalah Cara Anda Mengajar
Menjadi Guru Idola yang Lebih Dekat dengan Siswa
Empat Kompetensi Pendidikan di Era Digital

2) Mendidik sebagai Karya

Guru adalah profesi, karena ia merupakan sebuah pekerjaan yang dihitung dan diberikan poin, atau juga dihargai dan diberikan imbalan sebagaimana layaknya pekerja pada umumnya seperti direktur, karyawan, buruh, penjahit dan sebagainya. Namun demikian guru juga bermakna sebagai karya. Semua orang bisa mengajar tetapi belum tentu ia bisa mendidik, apalagi mendampingi seorang siswa hingga sukses. Disinilah kesadaran dan pemahaman bahwa guru adalah karya, perlu diperhatikan.
Mendidik sebagai karya artinya bahwa aktifitas guru dalam mengajar dan mendidik tidak semata-mata menjalankan tugas pembelajaran, tetapi ia sedang membuat karya monumental berupa karya pengetahuan dan pembentukan kepribadian siswa. Tugas mendidik yang utama adalah bagaimana mengembangkan pengetahuan dan membentuk karakter peradaban sebuah bangsa yang bermartabat. Oleh karena itu aktifitas mendidik harus bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai akhlak mulia, serta menjadi pribadi yang tangguh dalam menjalankan tugas hidupnya sebagai khalifah di muka bumi.
Guru yang memiliki prinsip mendidik sebagai karya akan berusaha lebih optimal dalam menjalankan amanah dan tugas mendidiknya. Dalam dirinya akan tumbuh karakter mulia dan kepribadian kreatif, inovatif serta memiliki kemampuan mendidik yang memotivasi kesuksesan belajar siswa.

3) Mendidik sebagai Pemberdaya

Guru adalah profesi, karena aktifitas guru juga dipilih oleh sebagian besar masyarakat sebagai cara untuk mengangkat derajat seseorang, memperbaiki kondisi ekonomi, dan tentunya juga sebagai harapan akan masa depan yang lebih baik. Namun demikian guru juga bermakna sebagai pemberdaya, artinya selain bahwa pilihan profesi guru adalah cara untuk memberdayakan dirinya tetapi guru juga merupakan aktifitas untuk memberdayakan siswa agar menjadi pribadi yang siap dan tangguh menjalani kehidupan.

Orientasi pendidikan sebagai pemberdayaan meniscayakan usaha yang sungguh-sungguh dari dalam diri seorang guru dalam mengembangkan kompetensinya, baik kompetensi paedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Guru yang memberdayakan adalah guru yang mempunyai kompetensi untuk memberdayakan. Artinya seorang guru dalam mendidik haruslah menganut prinsip bahwa ia adalah seorang yang mempunyai tugas besar untuk kehidupan. Siswa adalah generasi muda yang akan menentukan masa depan bangsa, dan masa depan bangsa itu telah dimulai ketika siswa berhadapan dengan seorang guru melaksanakan proses belajar mengajar. 

Guru yang memiliki prinsip mendidik sebagai pemberdaya ini akan memiliki orientasi pembelajaran yang tidak hanya sebatas kesuksesan studi di sekolah, tetapi berorientasi pada kesuksesan hidup di masa depan. Guru dengan prinsip mendidik sebagai pemberdaya ini juga akan memiliki karakter mulia yang ditunjukkan dengan kepribadian yang optimistis serta pembelajar kelas dunia. Ia akan terus mengembangkan semua kompetensinya agar mampu mendidik dengan cara yang lebih tepat, agar mampu mendidik untuk memberdayakan siswa menjadi pribadi yang lebih tangguh serta berdaya saing tinggi dalam menjalani kehidupan di masa depan.

Post a Comment

0 Comments