Righ Header

Bergerak Melejitkan Kemampuan Otak untuk Meningkatkan Prestasi Belajar

Dalam sehari pikiran kita tentunya banyak menerima informasi, namun tidak sekedar menerima seperti fungsi komputer, piranti audio atau video tape recorder. Informasi yang masuk dalam benak kita akan diproses secara berkelanjutan, semisal, apakah saya pernah mendengar hal ini sebelumnya, di manakah saya memperolehnya, dan lain sebagainya. Jadi, otak kita tidak sekedar menerima informasi, namun juga mengolahnya. Sama halnya dengan proses belajar seorang anak. Pendidikan anak saat ini membutuhkan pengawasan lebih dari orang tua, mengingat pergaulan yang semakin tidak karuan. Cara anak belajar saat ini tentunya akan berbeda dengan anak masa dulu. Informasi yang akan diterima anak setiap harinya tergantung pergaulan mereka, di lingkungan seperti apa anak-anak tinggal, apakah lingkungan sekolahnya membantu dalam perkembangan menuju prestasi belajar atau sebaliknya.

Meningkatkan prestasi belajar siswa dapat dilakukan dengan membantu mereka dalam memilah informasi yang baik dan boleh untuk dikonsumsi otaknya. Otak kita akan melakukan tugas proses belajar yang lebih baik jika kita membahas informasi dengan orang lain dan jika kita diminta untuk mengajukan pertanyaan tentang itu. Sebagai contoh, seorang guru meminta siswa untuk berdiskusi dengan teman sebangkunya tentang apa yang dijelaskan oleh guru tersebut pada beberapa jeda waktu yang disediakan selama pelajaran berlangsung. Dibandingkan dengan siswa dalam kelas pembanding yang tidak diselingi diskusi, siswa yang berdiskusi akan memiliki peluang lebih banyak untuk lebih mudah paham dengan materi yang diberikan. Mengapa demikian? Karena informasi yang diperoleh akan mudah dipahami jika kita membahasnya dengan orang lain.
src img: indonesiaone.org
Akan lebih baik jika kita dapat melakukan sesuatu terhadap informasi itu, dan dengan demikian kita bisa mendapatkan umpan balik tentang seberapa bagus pemahaman kita. Proses belajar akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal berikut ini:

1. Mengemukakan kembali informasi dengan kata-kata mereka sendiri

Apa yang terjadi ketika guru menjejali siswa dengan pemikiran mereka sendiri atau ketika guru terlalu sering menggunakan penjelasan dan pemeragaan yang disertai ungkapan, “begini lho caranya”? Menuangkan fakta dan konsep ke dalam benak siswa secara sepihak hanya akan mengganggu proses belajar. Materi yang kita berikan akan mudah dipahami dengan cara mereka sendiri, yaitu dengan mencoba mengemukakan kembali apa yang telah diberikan.

2. Memberikan contohnya

Tentu saja proses belajar tidak sekedar melihat dan mendengar. Banyak hal yang kita lihat, dengar, bahkan dihafalkan sekalipun akan hilang. Mempelajari bukanlah menelan semuanya. Untuk mengingat apa yang telah diajarkan, siswa harus mengolahnya atau memahaminya dengan cara mempraktikkan atau memberikan contohnya.

3. Menggunakannya dengan beragam cara

Belajar bukanlah kegiatan sekali tembak. Proses belajar berlangsung secara bergelombang. Belajar memerlukan kedekatan dengan materi yang hendak dipelajari, jauh sebelum bisa memahaminya. Belajar juga memerlukan kedekatan dengan berbagai macam hal, bukan sekedar pengulangan atau hafalan. Apapun caranya jika itu membuat seorang anak lebih aktif dan semangat untuk mencari tau banyak hal, itu juga bisa disebut proses belajar. Beragam cara dalam mendidik anak, tidak hanya duduk di kelas, mendengarkan, mengerjakan soal dan lain sebagainya.

Baca juga:

src img: dapotbarani.blogspot.com
Dalam banyak hal, otak kita tidak begitu berbeda dengan sebuah komputer, dan kita adalah pemakainya. Sebuah komputer tentunya perlu di-“on”-kan untuk bisa digunakan. Otak kita juga demikian. Ketika kegiatan belajar sifatnya pasif, otak kita tidak “on”. Sebuah komputer membutuhkan software yang tepat untuk menginterpretasikan data yang dimasukkan. Otak kita perlu mengaitkan antara apa yang diajarakan kepada kita dengan apa yang telah kita ketahui dan dengan cara kita berfikir. Ketika proses belajar sifatnya pasif, otak tidak melakukan pengkaitan ini dengan software pikiran kita. Ujung-ujungnya komputer tidak dapat mengakses kembali informasi yang diolah bila tidak terlebih dahulu “disimpan”. Otak kita perlu menguji informasi, mengikhtisarkannya, atau menjelaskannya kepada orang lain untuk dapat menyimpannya dalam bank ingatannya. Ketika proses belajar bersifat pasif, otak tidak akan menyimpan apa yang telah disajikan kepadanya. Pada intinya, bila tubuh kita diam maka otak kita diam. Bergeraklah sambil belajar dan bekerja.

Lathifah Vajarini

Post a Comment

0 Comments