Righ Header

Mendidik Kemandirian Anak; Mengantisipasi Peter Pan Syndrome dan Cinderella Complex

Pola asuh orang tua terhadap anak akan menentukan sikap dan watak anak ketika nanti ia dewasa. Kasih sayang orang tua selayaknya ditempatkan sesuai porsinya. Jika tidak, kasih sayang yang keliru atau bahkan over protective pada anak justru dapat membunuh karakter anak itu sendiri. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang susah untuk mandiri, karena ia selalu merasa di sampingnya ada seseorang yang melindunginya.

Anak yang terbiasa dididik dengan kemandirian semenjak dini maka ia akan mempunyai kepribadian yang mampu bertahan (survive) dalam menghadapi masalah kehidupan. Sebaliknya anak yang terlalu dimanja akan mempunyai kepribadian yang lemah dalam menghadapi peliknya problematika kehidupan. Rendahnya kemampuan "bertahan dalam menghadapi masalah kehidupan" pada anak laki-laki seringkali diistilahkan dengan Peter Pan Syndrome, sedang pada anak perempuan diistilahkan dengan Cinderella Complex.

Cinderella Complex
src img: www.guardianlv.com

Apa itu Peter Pan Syndrome?


Peterpan Syndrome merujuk pada tokoh cerita anak-anak yang ditulis JM Barrie (1860-1937) seorang sastrawan dari Skotlandia. Peter Pan digambarkan sebagai karakter bocah lelaki nakal yang bisa terbang dan secara magis menolak menjadi dewasa.  Kemudian Dan Kiley (1983) menjadikan Peter Pan yang mempunyai watak kekanak-kanakan ini sebagai istilah untuk menyebut sebuah “penyakit” psikologis, yang dimana seseorang yang sudah berumur dewasa namun tidak mempunyai kematangan psikologis dan sosial secara dewasa. 

Sindrom Peter Pan ini bisa disebabkan oleh pola pengasuhan yang terlalu memanjakan anak. Sehingga anak tidak diberikan kebebasan untuk memilih dunianya sendiri. Orang tua yang terlalu memanjakan anak biasanya menjadi over protektif terhadap anaknya. Ia mempunyai kekhawatiran yang berlebihan terhadap anaknya akan keadaan-keadaan di sekitarnya. Sehingga anak cenderung bergantung kepada orang tuanya dan tidak memiliki kemampuan untuk bertahan dan memecahkan masalahnya sendiri.

Berikut ciri-ciri orang yang mengalami sindrom Peter Pan ?
  • Manja
  • Cenderung tidak bertanggung jawab
  • Memiliki ketergantungan berlebihan kepada orang lain
  • Kurang percaya diri
  • Anti kritik
  • Sulit berkomitmen
  • Suka Melawan
  • Mudah marah jika keinginan tidak terpenuhi
  • Sulit membuat keputusan sendiri
  • Tidak suka bekerja keras, cenderung pemalas
  • Mudah sakit hati
  • Cinta diri sendiri secara berlebihan

Untuk menghindari sindrome Peter Pan ini, maka orang tua harus menerapkan pola asuh yang benar semenjak anak masih kecil. Misalnya kalau anak melakukan kesalahan, orang tua jangan selalu membelanya, namun orang tua harus bisa menyadarkan anaknya bahwa ia telah berbuat salah dan ia harus menerima konsekuensi dari kesalahan tersebut. Dalam upaya perlindungan kepada anak, selayaknya orang tua tidak selalu turun tangan dalam setiap masalah anaknya, namun anak dibiasakan untuk memecahkan masalahnya sendiri agar ia terbiasa menghadapi masalahnya.

Bagaimanapun kepribadian seorang anak akan dipengaruhi oleh lingkungannya, baik orang tua, keluarga maupun masyarakat sekitar. Namun yang perlu difahami adalah bahwa orang tua merupakan lingkungan terdekat anak yang selalu bersinggungan setiap hari. Oleh karena itu pola asuh terhadap anak harus menjadi perhatian utama bagi orang tua dalam hal mendidik anaknya, karena anak yang dididik dengan pola manja dan terlalu over protektif akan berakibat pada kepribadian anak yang tidak tahan terhadap invasi kekuasaan dari lingkungan. Anak dengan sindrome Peter Pan ini tidak mampu berpikir tentang dirinya dan apalagi menangani problem yang menimpanya, karena sejak kecil semua masalahnya bergantung untuk diatasi oleh orang-orang disekitarnya seperti, ayah, ibu atau pengasuhnya.

Apa itu Cinderella Complex? 

Cinderella Complex juga merujuk pada tokoh cerita anak-anak Cinderella. Sebagaimana dalam penggambaran tokoh tersebut, Cinderella digambarkan sebagai seseorang yang semasa kecilnya hidup bahagia bersama ayah dan ibunya. Namun menjelang remaja, kehidupannya berubah karena, ibu kandungnya meninggal dan ayahnya menikah dengan wanita lain. Setelah ayahnya menikah, kehidupan Cinderella menjadi sangat tidak bahagia. Karena ibu dan dua saudara tirinya itu sangat membenci Cinderella. Kehidupan cinderella menjadi sangat pahit, menyebabkan ia merindukan sosok lelaki seperti ayahnya yang akan melindungi dan menyayangi dirinya.
Cinderella komplex ini biasanya menimpa anak wanita yang diasuh oleh orang tuanya dengan cara selalu dilindungi secara berlebihan, atau bahkan anak wanita yang hidupnya dalam keadaan tertekan. Seorang anak yang mengalami Cinderella Complex ini maka ia mengharap ada figur yag dapat menyelamatkannya di setiap masalah yang ia hadapi. Dengan demikian ketika ia menghadapi masalah maka sedikit sekali usaha  dan kemampuan yang ia kerahkan untuk menyelesaikannya.

Sebagaimana dalam kisah Cinderella, anak yang mengalami Cinderella Complex ini akan mengharapkan seorang "Pangeran"  untuk menyelamatkan hidupnya ketika ia mendapatkan masalah. Ia memiliki sebuah ketakutan tersembunyi untuk mandiri. Karena yang ada dalam pikiran mereka adalah keinginan untuk selalu diselamatkan, dilindungi, dan tentunya disayangi oleh “sang pangeran impian”.

Paradigma yang keliru oleh sebagian masyarakat dan orang tua bahwa perempuan adalah makhluk yang "lemah" harus segera diubah. Anak perempuan harus dibiasakan dengan kenyataan hidup dalam kesehariannya. Masalah adalah sesuatu yang harus dihadapi dan diselesaikan, karena nanti pada saat mereka dewasa akan menemui banyak masalah yang harus ia selesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain. 


Adversity Quotient dan Upaya Untuk Mendidik Kemandirian Anak

Adversity Quotient (AQ) adalah kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup lewat perjuangan. Dengan AQ dapat ditentukan kadar kemampuan seseorang dalam mengatasi kemelut hidup tanpa menjadi putus asa. Selain IQ, EQ dan ESQ yang selama ini dibahas sebagai cara melejitkan prestasi anak di masa depan lewat potensi spiritual, AQ muncul sebagai jawaban atas sedihnya hidup orang-orang yang secara karier dan materi sukses tapi tidak dapat meraih kebahagian terutama dalam membina hubungan dalam rumah tangga.
AQ dapat dimanfaatkan sebagai indikator untuk melihat hal-hal berikut ini:
  1. Kemampuan bertahan dalam setiap penderitaan dan tahu cara mengatasi situasi yg membuat penderitaan.
  2. Keterampilan untuk menerima & menyelesaikan setiap tantangan.
  3. Ilmu tentang ketabahan manusia (Human Resillience)
Untuk memberikan gambaran AQ ini, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga jenis:
  1. Quitter (Mudah menyerah). Para quitter adalah para pekerja yg sekadar untuk bertahan hidup). Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan saat menerima tantangan.
  2. Camper (Berkemah di tengah perjalanan). Para camper lebih baik, karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yg berisiko, tetapi tetap mengambil risiko yg terukur dan aman. “Ngapain capek-capek” atau “segini juga udah cukup” adalah moto para campers. Orang2 ini se-kurang2nya sudah merasakan tantangan, dan selangkah lebih maju dari para quitters. Sayangnya banyak potensi diri yg tidak teraktualisasikan, dan yg jelas pendakian itu sebenarnya belum selesai.
  3. Climber (pendaki yg mencapai puncak). Para climber, yakni mereka, yg dengan segala keberaniannya menghadapi risiko, akan menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yg menghadang. Namun, dibalik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Sebagaimana tiga terminologi dan penjelasan di atas, para Climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata lain, AQ membedakan antara para climber, camper, dan quitter. AQ ternyata bukan sekadar anugerah yg bersifat given namun AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan-latihan  tertentu, setiap orang bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Apalagi jika pelatihan ini telah diterapkan dalam mendidik anak semenjak dini. Maka anak akan sudah terbiasa dengan sikap mandiri serta berani dalam menghadapi tantangan dan permasalahan hidupnya.

Untuk menghasilkan anak dengan ketangguhan seorang Climber yang memiliki AQ tinggi, kita harus memperhatikan aspek-aspek perkembangan seperti: Fisik dan kesehatan, daya tahan mental, kestabilan emosi, kemampuan sosial, keimanan dan ibadah kepada Tuhan, keterampilan dan seksualitas yg normal.

Oleh karena itu  Adversity Quotient (AQ) perlu diterapkan dan disadarkan kepada anak semenjak kecil. Anak perlu dihadapkan pada kenyataan hidup yang sebenarnya, bahwa hidup itu tidak sebatas seperti yang ada di dongeng-dongen khayalan yang selalu Happy Ending. Hidup adalah perjuangan yang terus menerus, karena selama manusia masih hidup maka ia akan menemui masalah, dan selama ia menemui masalah maka ia punya tanggung jawab untuk sanggup dan mampu menyelesaikan masalah tersebut. Happy Ending adalah adalah sebuah hasil dari proses panjang perjuangan, bukan hadiah yang tiba-tiba turun dari langit.

Pola asuh yang memandirikan anak ini bukanlah pekerjaan yang susah, setiap orang tua bisa memulai dari hal-hal yang sederhana. Misalkan saja ketika anak mendapatkan pekerjaan rumah (PR) dari sekolah, sesulit apapun PR tersebut jangan sampai orang tua ikut mengerjakannya karena itu dapat membuat anak ketergantungan dan abai dari masalahnya sendiri. Namun anak cukup dibimbing tentang bagaimana langkah-langkah atau cara mengerjakan tugasnya tersebut. Sehingga anak akan terbiasa untuk mengerjakan dan bertanggung jawab atas masalahnya sendiri. Dengan begitu anak akan terbiasa pula untuk mandiri dalam menyelesaikan masalah di kehidupan masa datang.

Sholeh Fasthea

Post a Comment

0 Comments