Righ Header

Sepuluh Metode untuk Mendapatkan Partisipasi Siswa

Apa yang terjadi jika guru menjejali siswa dengan pemikiran mereka sendiri atau ketika guru terlalu sering menggunakan penjelasan dan pemeragaan (demonstrasi) yang disertai ungkapan, “begini lho caranya”? Menuangkan fakta dan konsep ke dalam benak siswa dan menunjukkan keterampilan dan prosedur dengan cara yang kelewat menguasai justru akan mengganggu proses belajar. Cara menyajikan informasi akan menimbulkan kesan langsung di dalam otak namun tanpa memori fotografis, siswa tidak akan mendapatkan banyak hal baik dalam waktu lama maupun sebentar.

Tentu saja proses belajar sesungguhnya bukanlah semata kegiatan menghafal. Banyak hal yang kita ingat akan hilang dalam beberapa jam. Mempelajari bukanlah menelan semuanya. Untuk mengingat apa yang telah diajarkan, siswa harus mengolahnya atau memahaminya. Seorang guru tidak dapat dengan serta-merta menuangkan sesuatu ke dalam benak para siswanya, karena mereka sendirilah yang harus menata apa yang mereka dengar dan lihat menjadi satu kesatuan yang bermakna. Tanpa peluang untuk mendiskusikan, mengajukan pertanyaan, mempraktikan, dan barangkali bahkan mengajarkannya kepada siswa yang lain, proses belajar yang sesungguhnya tidak akan terjadi.

Lebih lanjut, belajar bukanlah kegiatan sekali tembak. Proses belajar berlangsung secara bergelombang. Belajar memerlukan kedekatan dengan materi yang hendak dipelajari, jauh sebelum bisa memahaminya. Belajar juga memerlukan kedekatan dengan berbagai macam hal, bukan sekedar pengulangan atau hafalan. Sebagai contoh pelajaran matematika bisa diajarkan dengan media yang konkret, melalui buku-buku latihan, dan dengan memraktikan dalam kegiatan sehari-hari. Masing-masing cara dalam menyajikan konsep akan menentukan pemahaman siswa. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana kedekatan itu berlangsung. Jika ini terjadi pada siswa, dia akan merasakan sedikit keterlibatan mental. Ketika kegiatan belajar sifatnya pasif, siswa mengikuti pelajaran tanpa rasa keingintahua, tanpa mengajukan pertanyaan, dan tanpa minat terhadap hasilnya (kecuali nilai yang akan diperoleh). Ketika kegiatan belajar bersifat aktif, siswa akan mengupayakan sesuatu. Dia menginginkan jawaban atas sebuah pertanyaan, membutuhkan informasi untuk memecahkan masalah, atau mencari cara untuk mengerjakan tugas.

Belajar aktif tentunya siswa ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Kegiatan belajar aktif tidak dapat berlangsung tanpa partisipasi siswa. Ada bermacam cara untuk menyusun diskusi dan mendapatkan respons dari siswa kapanpun itu selama jam pelajaran. Sebagian sangat cocok bila waktunya terbatas atau ketika siswa perlu dorongan supaya berpartisipasi. Ada sepuluh metode untuk mendapatkan partisipasi kapanpun dari siswa, yaitu:

1. Diskusi terbuka, kegiatan dengan mengajukan pertanyaan dan melemparakan kepada seluruh kelompok tanpa melakukan pengaturan lebih lanjut. Diskusi terbuka yang sifatnya langsung sangatlah menarik, sehingga dengan diskusi tersebut dapat mencuri perhatian siswa.

2. Kartu jawaban, membagikan kartu indeks dan meminta jawaban atas pertanyaan yang diberikan tanpa menyertakan nama. Kemudian serahkan atau sebarkan kartu indeks itu kepada semua kelompok. Gunakan kartu jawaban untuk menghemat waktu atau untuk melindungi privasi dari jawaban yang bisa menyinggung perasaan. Tuntutan untuk memberikan jawaban secara ringkas pada selembar kartu merupakan keunggulan juga.

3. Jajak-pendapat, menyusun sebuah survei singkat yang diisi dan dihitung hasilnya di tempat itu juga, atau lakukan pemungutan suara secara lisan. Gunakan pemungutan suara untuk mendapatkan data secara cepat dan dalam bentuk yang bisa dihitung. Jika menggunakan survei tertulis, upayakan untuk menyampaikan kembali hasilnya kepada siswa sesegera mungkin. Jika menggunakan survei lisan, mintalah siswa untuk mengangkat tangan atau perintahkan siswa untuk memberikan jawaban.

4. Diskusi subkelompok, membagi siswa menjadi sub-sub kelompok yang terdiri dari 3 anggota atau lebih untuk berbagi (dan mencatat) informasi. Gunakan diskusi subkelompok jika memiliki waktu cukup untuk memproses pertanyaan dan soal. Ini merupakan salah satu metode utama untuk mendapatkan partisipasi dari seluruh siswa.

5. Mitra belajar, perintahkan siswa untuk mengerjakan tugas atau mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan utama dengan siswa yang duduk di sebelahnya. Gunakan mitra belajar jika ingin melibatkan semua siswa namun tidak memiliki cukup waktu untuk melaksanakan diskusi kelompok kecil. Sebuah pasangan merupakan konfigurasi kelompok yang baik untuk membangun hubungan saling mendukung dan/atau untuk melaksanakan aktivitas kompleks yang tidak cocok dengan konfigurasi kelompok besar.

6. Penyemangat, datangi semua kelompok dan mintai jawaban singkat atas pertanyaan utama. Gunakan kalimat penyemangat bila menginginkan sesuatau secara cepat dari siswa.

7. Panel, perintahkan sejumlah siswa untuk mengemukakan pendapat mereka di depan kelas. Sebuah panel informasi dapat dibentuk dengan meminta pendapat dari sejumlah siswa yang sudah ditentukan yang masih berada di tempat duduk masing-masing. Gunakan panel bila waktunya mencukupi untuk mendapatkan jawaban yang lebih serius dan terfokus terhadap pertanyaan yang diberikan. Lakukan penggiliran panelis agar semuanya bisa berpartisipasi.

8. Ruang terbuka (fishbowl), membentuk 2 lingkaran untuk team diskusi dan team pendengar. Gunakan formasi ruang terbuka untuk membantu pemfokuskan pada diskusi kelompok besar. Meski memakan waktu namun ini merupakan metode terbaik untuk mengkombinasikan keunggulan dari diskusi kelompok besar dan kecil.

9. Permainan, gunakan latihan yang menyenangkan atau permainan kuis untuk memancing pendapat, pengetahuan atau keterampilan siswa.

10. Memanggil pembicara selanjutnya, perintahkan siswa untuk tunjuk jari jika ingin berbagi pendapat, dan perintahkan agar pembicara yang baru saja berbagi pendapat untuk menunjuk teman yang lain agar berbagi pendapat juga.

Kesepuluh metode di atas dapat diterapkan ketika guru ingin mendapatkan perhatian siswa, namun tidak sepenuhnya seluruh siswa berpusat perhatian pada guru karena karakter pada masing-masing siswa berbeda. Upaya yang memang seharusnya dilakukan oleh seorang guru yang melakukan inovasi pendidikan salah satunya adalah menerapkan pembelajaran aktif. Nah jika Anda memang seorang guru masa kini yang menjadi inovator maka coba terapkan kesepuluh metode di atas.
Referensi: Buku Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif – Melvin L. Silberman

Lathifah Vajarini

Post a Comment

0 Comments