Righ Header

Selamat Hari Guru; Masihkah Guru Menjadi Profesi Mulia?

Tanggal 25 November adalah hari raya bagi seluruh guru di Indonesia. Apakah anda ikut merayakannya? Selayaknya hari raya yang berlaku di Indonesia, maka perlu kiranya anda mempersiapkan berbagai pernik penghias kebahagiaan anda. Baju baru, makanan nan menggoda selera, dan juga tentunya kalau perlu anda menghias rumah anda agar terlihat semakin indah mempesona. Seperti juga sebagaimana berlaku di Indonesia, hal-hal tersebut dilakukan untuk menghomarti para tetamu yang datang ke rumah kita. Sudahkan anda mempersiapkan itu?

Hari raya. Identik dengan sesuatu yang mewah, sesuatu yang spesial, dan tentunya sesuatu yang sangat dirindukan, karena hari spesial ini hanya terjadi setahun sekali makanya setiap orang mempunyai kerinduan yang lebih. Coba saja hari raya itu terjadi setiap hari, setiap hari anda lebaran, setiap hari anda ulang tahun, setiap hari anda merayakan hari guru, masihkan hari raya itu akan menjadi hari spesial buat anda?

Pertanyaan sebenarnya adalah, apakah Hari Guru ini bisa kita persepsikan sebagai hari raya, sebuah hari dimana anda merayakannya, sebuah hari dimana setiap orang bersuka cita, sebuah hari dimana setiap orang merasa bahagia karena memiliki hari raya tersebut. Ataukah hari guru, adalah hari yang tidak perlu dirayakan, karena memang tidak raya, karena memang tidak spesial, tidak ada yang baru dan tidak ada yang menggembirakan.
Guru pendidik masa depan
src gambar; http://tribunnews.com
Sampai detik ini kita masih melihat dan mendengar bahwa di berbagai daerah para guru-guru honorer berdemo menuntut diangkat menjadi PNS. Beruntunglah anda yang sudah menjadi PNS. Jadi bagi anda yang sudah PNS janganlah mengeluh lagi dengan berbagai banyak alasan, kecuali hanya menunjukkan bahwa anda sedang menyakiti kawan-kawan seperjuangan anda yang sampai detik ini belum "merdeka" seperti anda. Saya pernah sekian tahun tidak bersua guru saya, kemudian ketika bertemu beliau, maka cerita baik darinya adalah ketika beliau mengatakan kini saya sudah "merdeka", artinya beliau telah diangkat menjadi PNS setelah lebih dari 12 tahun mengabdi di sebuah madrasasah yang menggajinya tidak lebih dari Rp. 400.000 (Empat Ratus Ribu Rupiah).

Faktor profesionalitas sebagai ukuran penentuan gaji guru, sebenarnya juga menjadi masalah besar yang perlu kita telaah. Sistem yang diterapkan saat ini, seperti adanya guru profesional, sertifikasi dan lain-lainya, bisa jadi malah akan menjadi boomerang bagi  dunia pendidikan. Betapa tidak? Sistem sekarang ini lebih melihat profesionalitas guru dari angka-angka penilaian instan. Training atau pendidikan seperti PLPG dan PPG tidak bisa menunjukkan keadaan sebenarnya bagaimana guru ketika mengajar dan menyelenggarakan proses belajar-mengajar di sekolah. Semua orang sadar dan paham, ketika anda akan dinilai, pastilah anda akan menampilkan sesuatu yang terbaik. Karena tentu anda juga menginginkan nilai yang terbaik. Maka proses-proses pendidikan instan seperti ini, bisa saja hanya akan menjadi semakin bertambahnya kompleksitas masalah pendidikan. Guru dididik mengumpulkan sebanyak-banyaknya angka penilaian, dan pada akhirnya angka-angka penilaian itulah yang akan menentukan gaji seseorang. Bisa jadi sistem instan ini hanya akan menciptakan robot-robot pengumpul gaji.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa di banyak pelosok negeri ini, bertebaran para guru-guru sukarela yang menggaransi kehidupan generasi bangsa dengan penuh keikhlasan, bahkan mereka lebih mencintai murid-muridnya melebih kecintaan terhadap hidupnya sendiri. Kita juga tidak bisa menutup telinga, bahwa di berbagai penjuru negeri ini masih banyak guru-guru yang bersusah payah mengajar, berpeluh keringat membesarkan cita-cita anak didiknya, tapi mereka tidak pernah merasakan apa yang disebut sebagai "Gaji".

Mana mungkin kita tega menyebutnya mendapatkan gaji, kalau sesuatu yang berangka itu hanya mereka terima empat bulan sekali. Dan anda tahu jumlahnya berapa? Tak lebih dari biaya listrik atau paket data bulanan anda. Pantaskah itu disebut sebagai gaji, jika sesuatu yang berangka itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka meski hanya untuk seabats belanja beras seminggu saja.

Persoalan guru adalah persoalan pendidikan. Kita tahu semua itu, dan para pemangku jabatan di negeri ini juga tahu semua itu. Masalahnya adalah maukah mereka mencari jalan keluar dari permasalah guru tersebut, atau hanya menambah semakin kompleksnya permasalahan ini saja.

Sebanyak apapun masalah dan beban anda, namun jika anda sudah mempunyai NIP, rasa-rasanya anda tidak perlu membuang energi untuk mengatakan bahwa: Jadi PNS itu susah. Setidaknya kalaupun anda merasa terlalu banyak beban mengajar, beban administrasi dan juga beban-beban kependidikan lainnya, anda masih akan mendapatkan hiburan berupa "gaji" di akhir bulan, bukan?. Saya kira itu patut disyukuri, dengan cara meningkatkan kualitas dan kompetensi anda untuk terus memajukan generasi bangsa. Terus meningkatkan keterampilan mengajar anda, sehingga anda bisa menyelenggarakan proses belajar-mengajar yang memajukan, bukan proses belajar mengajar yang justru membawa kemunduran peradaban.

Baca juga:

Masih lebih susah mereka-mereka guru yang berjuang sekuat tenaga, sekuat pikiran, sekuat mental dan jiwa, sekuat kehidupan mereka. Guru-guru yang berani menggaransi masa depan anak didik dengan pengetahuan, keterampilan, akhlak dan inspirasi luar biasa. Sementara tidak ada satupun yang menggaransi kehidupan mereka, kecuali sikap tawakkal kepada Tuhan-Nya.

Guru sebagai lokomotif utama perubahan dan kemajuan bangsa ini masih tidak mendapatkan tempat yang seharusnya. Seberapapun gaji seorang guru PNS, masih jauh lebih kecil dibanding dengan tunjangan pulsa para hipokrit yang bercokol di seanyan sana. Atau mungkin juga para PNS lain yang bekerja di departemen tertentu yang gajinya minimal 8 digit. Bahkan jika para hipokrit itu bisa mengajukan anggaran untuk biaya tunjangan buang air besar (bab), saya kira mereka juga akan mengajukannya. Dan tentu nominalnya akan lebih besar dari gaji para guru. Ini bukan sekedar persoalan gaji, tetapi sebagai profesi, maka selayaknya guru juga mendapatkan penghargaan yang setimpal bukan yang sekedarnya karena para guru telah melakukan lebih dari sekedarnya. Inilah sebuah negeri yang tidak bisa menghargai jasa-jasa gurunya.

Menjadi guru di negeri ini adalah pilihan hidup yang paling berani. Namun ternyata begitu banyak para pemuda dan pemudi negeri ini yang masih berani mengambil pilihan ini. Lihat saja di beberapa fakultas kependidikan yang mahasiswanya selalu membludak. Jadi, profesi guru yang merupakan profesi paling mulia namun juga profesi paling tidak dihargai di negeri ini masih menjadi magnet yang menyedot banyak peminat.

Jika diadakan penelitian berdasarkan asal daerah, niscaya mayoritas mahasiswa kependidikan adalah mereka para generasi terbaik yang berasal dari kampung-kampung. Meskipun juga tidak menutup kemungkinan beberapa mahasiswa berasal  dari kota, namun pastinya mepunyai prosentase lebih sedikit. Anak-anak muda kota akan memilih jurusan-jurusan yang lebih bergengsi seperti arsitektur, kedokteran, informatika, ekonomi, fisipol dan lain-lainnya. Satu alasan simpel sebenarnya, mengapa kebanyakan atau mayoritas mahasiswa kependidikan berasal dari kampung-kampung. Profesi guru masih dipandang sebagai satu profesi yang lebih baik, lebih terhormat, lebih keren, dibanding profesi-profesi lainnya yang mereka lihat di keseharian mereka seperti petani atau pedagang.

Jadi seberapapun berat dan besar masalah anda, anda tetap harus optimis karena masih banyak orang-orang yang ingin seperti anda. Orang-orang yang terinspirasi oleh pengetahuan anda. Orang-orang yang tergerak oleh semangat hidup anda. Orang-orang yang maju karena loyalitas dan ketekunan anda. Guru haruslah tetap bangga menjadi guru. Guru tetaplah profesi yang mulia, meski tidak mendapatkan penghargaan yang sepantasnya, karena anda memang telah benar-benar berharga. Guru tidak perlu mendapatkan pujian kemuliaan dari orang lain, bahkan dari pemerintahnya sendiri, karena bagaimanapun guru adalah profesi yang sangat mulia.

Selamat merayakan kemuliaan anda.


Post a Comment

0 Comments