Righ Header

Inovasi teknologi Futuristik; Sebuah Determinasi Masa Depan


“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman: 33-34) 

Ayat di atas adalah sebuah inspirasi yang ditunjukkan Tuhan tentang bagaimana seharusnya manusia hidup. Korelasi makna antara “menembus/ melintasi bumi” dengan “kekuatan/ sulthan” adalah sebuah ajaran yang maha dahyat. Ini adalah pemacu bagi manusia untuk meningkatkan kapasitas keilmuannya agar dapat memaksimalkan potensi ruhani dan jasmaninya sehingga mampu mengelola sumber daya kehidupan baik di langit maupun di bumi.

Bumi adalah satu wujud eksistensi Tuhan, begitupun juga dengan ciptaan lainnya di alam semesta ini seperti planet, bintang, bulan, matahari dan galaksi. Bumi adalah “The big creation from God” tetapi Tuhan mempunyai lebih banyak lagi kreasi besarnya. Manusia juga merupakan kreasi besar Tuhan, meskipun faktanya lebih kecil secara fisik, tetapi manusia dikarunia Tuhan dan sekaligus diberi jalan oleh-Nya untuk menjadi pembesar bagi kehidupan semesta.

Seiring usia semesta yang bertambah, kehidupan terus berangsur menciptakan cara dan gaya hidup baru, dan akhirnya membentuk peradaban baru pula. Ratusan tahun lalu, para pengelana melayarkan perahunya untuk menjelajah belahan dunia, mungkin saat itu belum ada istilah travelling yang saat ini telah menjadi gaya hidup manusia yang menamakan dirinya modern. Para penjelajah memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk dapat mencapai sebuah pulau atau tempat yang dituju. Namun kini, ribuan kilometer jarak antara belahan bumi bisa ditempuh dalam hitungan jam, bahkan untuk bertatap muka antar negara bisa dilakukan dalam hitungan detik.

Baca Juga:

Pertanyaannya adalah apakah belahan bumi semakin menyempit sehingga pulau-pulau saling berhimpit, atau manusia memang telah benar-benar memahami ayat-ayat Tuhan sehingga ia mampu merealisasikan ajaran-Nya, menembus langit dan bumi. Sungguhpun manusia kini telah benar-benar mampu memanifestasikan ayat Tuhan dalam bentuk berkarya cipta, mengapa lebih banyak dari kita hanyalah menjadi penikmat dan konsumen. 

Ironi kehidupan yang terjadi adalah bahwa ternyata saat ini, khususnya umat Islam, seolah hanya menjadi penonton manis dalam mencipta karya. Efisiensi kehidupannya lebih banyak hanya sebagai pengguna pasif bukan pemain aktif. Distorsi pemikiran pada kebanyakan masyarakat serta didukung pula oleh kurikulum lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan mendiskursuskan teori daripada menemukan teori baru adalah salah satu biang keladi degradasi peradaban. Sementara di sudut lain bumi ini sedang terus berupaya menemukan penciptaan karya yang berorientasi futuristik, yang mampu menjawab peliknya permasalahan hidup yang kini belum terjadi, sebuah permasalahan hidup yang baru direka-reka sekiranya terjadi pada berapa puluh tahun atau bahkan beberapa ratus tahun yang akan datang. 

Melihat perkembangan cara hidup abad 20 yang terus menuju kulminasi pencapaian prestasi futuristik, maka probabilitas akan adanya sesuatu yang selama ini masih dianggap fiksi bahkan mitos, sangat mungkin akan segera terwujud pada abad 21. Bisa dibayangkan pada lima puluh tahun kedepan bagaimana capaian-capaian alat-alat komunikasi, informasi, infrastruktur dan juga transportasi akan terus bermetamorfosis dan bertransformasi menjadi sesuatu yang saat ini hanya ada dalam cerita fiksi. 

Bukan sebuah kebetulan, jika pada saatnya nanti manusia akan ditanami mikroprosesor untuk memprogram aktifitas fisik dan bahkan mungkin juga aktifitas mentalnya. Manusia akan mengandalkan alat agar tetap bisa hidup sesuai jaman dan peradabannya. Betapa tidak, saat ini saja manusia sudah hidup pada fase dimana ketergantungan pada suatu alat menjadi sangat dominan, sebenarnya ini adalah sebuah masalah sekaligus tantangan yang harus segera menjadi preferensi utama untuk segera ditemukan solusinya. 

Kecanggihan gagasan pada wujud-wujud teknologi masa depan yang kini baru bisa tersaji dalam video game ataupun film-film fiksi diprediksi akan menjadi kenyataan dalam beberapa dekade ke depan. Terlebih dalam bidang militer probabilitas akan munculnya teknologi pemusnah masal canggih unpredictable yang cukup sekali klik mampu meluluhlantakkan suatu negara mungkin saja akan segera terwujud. 

Laser yang dulunya masih menjadi angan-angan, kini bisa dilihat dan digunakan terutama dalam bidang kesehatan bisa untuk menghilangkan benjolan kanker, tumor dan kista. Itu laser dalam kecil, bagaimana jika laser itu diproduksi dalam skala dan kapasitas besar pula. Maka tentunya peluru bisa diganti dengan laser yang lebih efisisen. Ini sama halnya membicarakan tentang manusia yang bisa terbang, kalau di Indonesia masih membicarakannya sebagai mitos, sementara Yves Rossy asal swiss telah berhasil membuat jet pack tenaga nitrogen dan hidrogen yang bisa membuatnya melayang di udara. 

Banyak teknologi yang akan terus berkembang dan diberi predikat sebagai penemuan maha dahsyat. Apa yang kini masih menjadi mimpi, bisa saja akan menjadi kenyataan dan bahkan melebihi mimpinya tersebut. Teknologi sonar untuk penginderaaan jarak jauh, teknologi gravitasi untuk memungkinkan benda mengambang, dan teknologi hologram untuk membuat tampilan visual tanpa memerlukan ruang fisik, adalah sekian teknologi yang diprediksi akan menjadi mercusuar peradaban di masa depan. 

Pemikiran atas kemudahan-kemudahan hidup yang ditopang oleh kecanggihan alat bantu akan terus menggejala seiring inovasi dan regenerasi alat itu sendiri. Manusia akan berebut lahan kehidupan dalam space yang tak berwujud, waktu yang tak terhitung, karena dunia abstrak adalah kenyataan yang bisa digenggam tangan. Perbedaan imajinasi, halusinasi, dan cipta kreasi menjadi semu, karena kesemuan itu sendiri telah berganti menjadi cerlang. Pada saatnya nanti impossibility akan menjadi possibility, dan fatality akan menjadi immortality. 

Keterbukaan pola pikir pada pribadi satu manusia, sekaligus kejumudan pola pikir pada manusia lainnya akan menjadi dua konstruksi gagasan yang saling melempar bola ofensif antara satu dengan lainnya. Maka tugas hidup manusia menjadi semakin tereduksi, jika hanya berdiam pada satu ordinat saja, yaitu ordinat kenyamanan konsumtif. Sedangkan manusia yang mampu mendestruksi sistem kenyamanan kemudian merestrukturisasi menjadi konjungsi pembelajaran niscaya ia akan mampu meneguhkan eksistensinya sebagai pembesar kehidupan, sesuai tugas kekhalifahannya di muka bumi. 

Manusia yang bervisi masa depan tidak akan terlena dengan kekinian yang temporal. Masa depan menjadi daya pemicu terhadap proses kehidupannya yang terus berorientasi pada pengembangan dan penciptaaan. Manusia modern bukanlah manusia yang mempunyai identitas modernitas yang lebih mengarah kepada gaya hidup hedonisme dan konsumtif, tetapi manusia modern adalah mereka yang berdaya saing dan ikut menentukan arah kiblat sejarah perkembangan kehidupan umat manusia. Pemenuhan kebutuhan hidup, atau lebih tepatnya konsumsi produk secara over capacity hanya akan mendistorsi nilai kemanusiaannya kepada keterbelakangan mental. 

Bagaimana keadaan hidup di masa kini ataupun di masa lalu adalah sebuah predestinasi yang seharusnya tidak menjadi pretensi untuk enggan mengkreasikan masa depan. Bagaimanapun masa depan adalah sesuatu yang bisa dicipta dan dikreasikan. Inovasi yang penuh determinasi untuk menciptakan tatanan kehidupan yang lebih bermartabat sudah seharusnya perlu bersarang pada setiap pribadi. Tidak ada yang salah dengan peradaban, yang ada adalah kesalahan dalam menciptakan peradaban.

Jika cara hidup sudah didahului dengan preliminer berfifkir yang salah, seperti anggapan bahwa kemodernan diukur dari penguasaan berlebihan terhadap produk yang mencerminkan bentuk peradaban modern itu, tentulah pada akhirnya hanya akan menyebabkan kemunduran peradaban itu sendiri. Sementara itu resistensi pemikiran terhadap perkembangan teknologi juga akan mempercepat kemunduran peradaban. Keengganan untuk mengenal dan belajar hanya akan menciptakan sekat pembatas untuk bagaimana menginovasinya dan meregenerasinya menjadi mempunyai nilai manfaat lebih. 

Untuk menuju peradaban futuristik, maka perubahan mindset adalah premis mayor yang harus mendasari langkah. Hanya dengan mindset yang bervisi masa depan lah yang akan mampu mencipta nilai positif peradaban masa depan pula. Masa depan memang menjadi misteri, akan tetapi dengan kekuatan cipta kreasi dan inovasi, maka misteri masa depan bisa dipecahkan dari sekarang juga. 

Edisi Cetak: Buletin Lamperan Edisi IV/ Desember 2014

Post a Comment

0 Comments