Righ Header

“Skripsi!" - Ditiadakan atau hanya opsional?

Karya Ilmiah
Sudah pernah mendengar isu tentang skripsi yang ditiadakan? Atau mungkin anda pernah mendengarkan isu bahwa skripsi digantikan dengan pembuatan laporan/ jurnal saja? Atau mungkin anda pernah mendengar bahwa pilihan kelulusan adalah mengikuti KKN atau mengerjakan skripsi? Diantara anda sebagai mahasiswa tentu pernah berharap skripsi ditiadakan. Lalu, bagaimana dengan syarat kelulusan mahasiswa yang akan memperoleh gelar sarjana?

Menurut kamus Bahasa Indonesia, skripsi merupakan karangan ilmiah yang ditulis mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademisnya. Skripsi bisa dikatakan karya luar biasa oleh mahasiswa sepanjang ia meraih gelar sarjananya. Namun, untuk mendapatkan ide brillian tentu tak mudah. Untuk menyusun skripsi yang baik dan aktual dengan permasalahan yang ada tidaklah mudah. Bahkan banyak dari mahasiswa tak mau ambil pusing dengan karya luar biasa ini. Karya ilmiah ini merupakan karya besar yang dibuat sekali dalam kuliah. Sehingga banyak mahasiswa yang menyepelekan skripsi. Bahkan banyak sekali jasa pembuatan skripsi dengan biaya yang menggoda namun cukup menguras kantong.

Menjadi mahasiswa tentu sulit dikarenakan tuntutan menjadi “maha”siswa yang sesungguhnya. Banyaknya siklus yang harus dilewati oleh mahasiswa bisa dibilang cukup terjal. Untuk bertahan dari semester ke semester atas berikutnya, mahasiswa harus menyusun makalah di setiap matakuliah yang diambil. Belum lagi jika ada praktik dalam matakuliahnya. Juga terdapat Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester di tiap matakuliahnya. Setelah semester dirasa sudah matang, mahasiswa diharuskan mempraktikkan apa yang didapat dari kuliah. Praktik itu merupakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Setelah itu barulah mahasiswa mengambil matakuliah skripsi dengan bobot 6 sks.

Dalam proses penyusunan skripsi pun tidak mudah. Banyak alur yang harus ditempuh. Mahasiswa akan merasa sangat frustasi di awal ketika banyak teman-temannya sudah mulai mendapatkan dosen pembimbing sedangkan ia masih belum fokus. Di sinilah saat-saat dimana mahasiswa dituntut untuk menggunakan daya pikirnya serta inovasinya dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam fokus pembelajarannya. Skripsi bisa dibilang “masterpiece” atau karya agung oleh mahasiswa, walaupun hasil tersebut bukan 100% dari hasil pemikirannya. Skripsi berisi banyak isu, fakta, serta permasalahan lengkap dengan jalan keluarnya. Tugas mahasiswa yang sesungguhnya adalah memberikan sumbangsinya dalam memecahkan masalah yang ada.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan (Menristek – Dikti), Muhammad Nasir, mengatakan bahwa akan menerapkan aturan bahwa tugas akhir skripsi untuk mahasiswa tingkat S1 menjadi sebuah pilihan atau opsional. Sehingga skripsi tidak lagi bersifat wajib sebagai syarat kelulusan. Sudah banyak Perguruan Tinggi yang menerapkan skripsi sebagai opsional saja. Dengan maksud skripsi digantikan dengan tugas tertulis lainnya sesuai kesepakatan dari pihak universitas. Ada beberapa hal yang menyebabkan mahasiswa malas saat skripsi. Pertama, mahasiswa merasa bahwa itu hanyalah membuang waktu. Sehingga kelulusan akan lama atau terhambat karena terkadang dari pihak dosen pun mempersulit. Kedua, karena faktor ekonomi. Biaya penyusunan skripsi tidaklah murah. Adanya penelitian, revisi, tentu sangat menguras otak dan kantong mahasiswa. Ketiga, mahasiswa lulus dengan waktu yang tidak pasti. Ada yang 3 tahun sudah sarjana, ada yang butuh waktu 4 tahun, bahkan hampir Drop Out (DO).
“Ini kan sudah ada Permen (Peraturan Menteri) kalau skripsi itu opsional, maka, jika Perguruan Tinggi mewajibkan, akibatnya yang terjadi seperti ini, pengawasan kurang baik. Akhirnya kecurangan terjadi. Permen ini sudah ada sejak tahun 2000 lho”, jelas Nasir (viva.co.id).
Kebijakan pemerintah pun seakan dianggap sebagai road-map yang kurang tegas. Banyak kecurangan yang terjadi dalam penyusunan skripsi. Mulai dari jasa penyusunan skripsi, jasa pembuatan ijazah palsu, dan copy-paste karya milik orang lain (plagiasi). Sebenarnya, tidak seharusnya seorang “maha”siswa melakukan kecurangan apapun dalam meraih cita-citanya. Lulus dan menjadi sarjana dengan nilai memuaskan serta tepat waktu merupakan keinginan semua mahasiswa. Seharusnya mahasiswa perlu bijak dalam menggunakan pola pikirnya. Setiap perguruan tinggi memiliki peraturan yang berbeda-beda. Banyak universitas di luar negeri yang tidak lagi menggunakan skripsi sebagai syarat wajib kelulusan. Bahkan beberapa universitas di Indonesia, khususnya di pulau Jawa sudah banyak yang menjadikan skripsi sebagai syarat kelulusan opsional atau bisa diganti dengan menulis jurnal.

Jika memang suatu perguruan tinggi mengharuskan adanya skripsi, maka seharusnya mahasiswa tetap konsisten dalam meraih gelar sarjana yang luar biasa melalui skripsi tersebut. Sudah seharusnya pula untuk pihak dosen mendukung dan tidak mempersulit penyusunan skripsi oleh mahasiswa. Pihak dosen juga seharusnya membimbing mahasiswanya sampai lulus dan menjadi sarjana. Skripsi bukanlah alasan untuk tidak berkarya. Ada kebanggaan tersendiri yang akan dirasakan saat anda lulus dan menjadi sarjana. Akan ada bukti perjuangan dari setiap usaha anda sebagai mahasiswa. “Skripsi” Opsional atau tidak, sebagai mahasiswa yang baik, tentu harus mengikuti kebijakan yang ada. Maka jadilah mahasiswa yang bijak dan kreatif
(Rizka Hidayah)

Post a Comment

0 Comments