Righ Header

Peran TIK dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam 2013

Kurikulum 2013, mendengar kata ini maka pola pikir kita akan langsung tertuju pada pembahasan mengenai pendekatan, metode dan strategi belajar mengajar sekaligus perihal penerapan kurikulum baru ini di tengah problematika pendidikan Indonesia yang semakin kompleks. Untuk sedikit memberi wacana tentang bagaimana konsep kurikulum 2013 terutama dalam pembelajaran PAI, berikut ulasannya.

Pola pikir dalam pembelajaran PAI konvensional
  • Guru dan buku teks sebagai satu-satunya sumber belajar
  • Kelas menjadi tempat satu-satunya untuk belajar
  • Belajar hanya dari lingkungan sekolah
  • Guru bertugas memberi tahu kepada siswa, bukan siswa yang mencari tahu
  • Guru yang lebih banyak bertanya kepada siswa, bukan siswa yang banyak bertanya
  • Hasil belajar sebagai hal yang utama dalam belajar, bukan proses belajar yang lebih utama
  • Siswa yang satu dengan yang lain tidak mempunyai ke khasan masing-masing yang berbeda.

Pola pikir mengenai proses belajar mengajar secara konvesional diatas telah mengakar pada pribadi guru, bahwa guru dan buku menjadi satu-satunya sumber belajar sehingga yang aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar adalah guru. Sedangkan siswa hanya berperan sebagai siswa yang pasif yang hanya menerima apa saja yang disampaikan oleh guru di kelas. Dalam rancangan kurukulum yang baru, kurikulum 2013 ini siswa dituntut menjadi lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan guru berperan sebagai tutor yang mendampingi dan mengawasi kegiatan belajar mengajar didalam kelas. Dengan begitu siswa dapat menyampaikan setiap pendapat yang ada didalam pikiran masing-masing sehingga kekhasan setiap siswa dapat terlihat karena tidak monoton hanya pendapat tunggal yang disampaikan oleh guru semata.

Pembelajaran PAI dalam kurikulum 2013

Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai salah satu mata pelajaran pokok dalam sistem pendidikan nasional kita tidak luput dari sasaran penerapan kurikulum 2013 ini. Melalui pendekatan Scientific yang dicanangkan dalam kurikulum 2013, PAI diterapkan dengan beberapa criteria sebagai berikut:
  • Materi pembelajaran berbasis fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan denga logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda atau dongeng semata.
  • Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru dan siswa terbebas dari prasangka atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
  • Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
  • Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
  • Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon meteri pembelajaran.
  • Berbasis pada konsep, teori, fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
  • Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.

Langkah-langkah pembelajaran PAI dalam kurikulum 2013 diharapkan dapat menyentuh tiga ranah yaitu ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
  1. Ranah pengetahuan meliputi tranformasi substansi atau meteri ajar agar peserta didik “tahu apa”
  2. Ranah sikap meliputi tranformasi substansi atau meteri ajar agar peserta didik “tahu mengapa”
  3. Ranah keterampilan meliputi ranah transformasi substansi atau meteri ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi, sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.
Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran PAI yang dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran yang terkait dan yang terkahir mencipta.

Urgensi Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Penerapan Kurikulum 2013

Rancangan yang sudah disiapkan oleh pemerintah melalui kurikulum 2013 sangat baik dalam rangka mendorong dan mengantarkan dunia pendidikan sebagai tonggak yang utama dalam satu Negara menjadi pendidikan yang lebih berkualitas, namun disisi yang lain kesiapan pemerintah dalam hal ini mendorong guru harus menjadi lebih berkompeten dalam melaksanakan atau mengimplementasikan kurikulum 2013. Guru harus memposisikan diri sebagaimana mestinya sesuai yang diamanatkan dalam kurikulum 2013, dimana guru berfungsi sebagai tutor yang mendampingi kegiatan belajar mengajar, dalam hal ini guru mendapatkan tantangan  untuk menghidupkan suasana kegiatan belajar mengajar agar lebih interaktif.

Maka dalam hal ini guru dituntut untuk menguasai media pembelajaran sebagai alat bantu belajar dan sumber belajar yang mampu memenuhi kriteria pembelajaran dengan pendekatan scientific, yaitu pembelajaran yang dirancang agar peserta didik secara aktif membangun konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan: mengamati, menanya, mengeksplorasi atau mencari tahu, menalar atau menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil yang ditemukan.

Pemanfaatan TIK dalam kurikulum 2013 khususnya dalam pembelajaran PAI ataupun pada mata pelajaran lainnya menjadi sangat signifikan dan mempunyai peranan yang besar dalam bebrapa aktifitas guru ketika mengajar ataupun kebutuhan administrasinya untuk mendukung suksesnya pembelajaran. Pentingnya pemahaman dan penguasaan TIK dalam Kurikulum 2013 tidak hanya berkaitan dengan materi yang turut membantu pelaksanaan pembelajaran lebih efektik karena dengan ditambahnya jam pelajaran PAI yang awalnya 2 jam pelajaran dan sekarang dalam kurikulum 2013 ini ditambah 1 jam menjadi 3 jam pelajaran dalam satu minggu. Apabila kebiasaan guru dalam proses belajar PAI menggunakan metode konvensional seperti ceramah maka sudah dapat dipastikan bahwa siswa akan merasa bosan dengan pembelajaran PAI.

Berkaitan dengan materi ajar guru harus keratif dan inovatif dalam menyajikan pembelajaran di kelas belajar. Sebagai contoh dalam pembelajaran tentang pelaksanaan haji, perawatan jenazah apabila tanpa menggunakan media pembelajaran berbasis TIK maka siswa hanya akan berangan-angan dan berkhayal tentang pelasanaan, tata cara, ketentauan pakaian dan lain sebagainya. Prosedur mengamati, mengekplorasi, menalar dan menemukan hal baru juga  hanya menjadi bayangan. Sehingga proses belajar mengajar tidak dapat maksimal, karena siswa tidak dapat melihat secara langsung prosesi haji, atau perawatan jenazah. Sedangkan dengan media pembelajaran berbasis TIK materi bisa disajikan dengan slide presentasi yang menyajikan maupun software aplikasi yang mendukung teks, gambar, audio, video bahkan evaluasi pembelajran. Begitupun juga pada materi lainnya, guru harus selalu berinovasi dalam hal penyampaian materi belajar. 
Berkaitan dengan atministrasi sekolah dalam hal ini pengolahan nilai siswa dengan penilaian autentik misalkan, peran TIK sangat besar terutama dalam pengambilan nilai dan perubahan nilai yang berupa angka kemudian dikonversi menjadi nilai huruf. Tanpa melaui TIK maka tingkat kesalahan dalam pengolahan dan mengimput nilai sangat besar, selain itu dari segi efisiensi waktu tidak tercapai.

Penilaian autentik merupakan pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap (spiritual dan sosial), ranah pengetahuan dan ranah keterampilan. Dari ketiga ranah tersebut masing-masing siswa mendapat jurnal penilain dengan criteria pengolahan nilai akhir sikap sangat baik apabila memperoleh sekor 3,20 sampai 4,00, mendapatkan nilai baik apabila memperoleh sekor 2,80-3,19, mendapatkan nilai cukup apabila memperoleh sekor 2,40 sampai 2,79, dan akan mendapatkan nilai kurang apabila mendapatkan sekor kurang dari 2,40.

Setelah mendapatkan nilai berupa nilai angka kemudian nilai tersebut dikonversikan dalam nilai huruf. Nilai 4 mendapat predikat A, Nilai 3,66 mendapat predikat A-, Nilai 3,33 mendapat predikat B+, Nilai 3,00 mendapat predikat B, Nilai 2,66 mendapat predikat B-, Nilai 2,33 mendapat predikat C+, Nilai 2,00 mendapat predikat C-, Nilai 1,33 mendapat predikat D+, Nilai 1,00 mendapat predikat D.

Dengan demikian peran Teknologi Informasi dan Komunikasi sangat besar dalam pelaksanaan Kurikulum 2013, dimana prosedur pembelajaran dengan pendekatan dan metodologi yang diterapkan pada kurikulum terbaru ini menuntut variasi dan inovasi strategi pembelajaran agar pembelajaran selalu menarik, interaktif, baru, masuk akal, mudah dan memenuhi semua aspek dan kriteria yang telah ditetapkan. Akhirnya kurikulum 2013 membawa dampak positif untuk kemajuan pendidikan Indonesia. 

Erwin Hardiyanto

Post a Comment

0 Comments