Righ Header

Pengaruh Gadget Terhadap Menurunnya Daya Konsentrasi Belajar

Pesatnya perkembangan teknologi terutama teknologi informasi dan komunikasi telah menjadikan sebagian besar orang-orang di seluruh dunia semakin dimanjakan dengan hadirnya perangkat gadget seperti handphone atau smartphone. Smartphone yang sering disebut-sebut sebagai handphone pintar ini mampu menjelajah seluruh jangkauan keinginan sang pemiliknya. Selain fitur- fitur yang canggih di dalam smartphone tersebut, para pemilik smartphone tersebut dimanjakan dengan akses internet yang cepat dan dipenuhi dengan aplikasi yang begitu banyak, sehingga pemilik smartphone sering merasa bahwa dunia mereka berada di dalam genggaman smartphone tersebut.

Dalam kondisi lanjut, terkadang pemilik smartphone terasa mendewakan perangkatnya tersebut. Pemakaian berlebihan terhadap perangkat komunikasi ini telah menyebabkan sindrom ketergantungan, sehingga apabila orang yang memiliki smartphone tidak menyentuh atau sekedar membawanya dalam aktivitas sehari-harinya maka dia merasa ada yang kurang dalam dirinya yang dapat menimbulkan perasaan kurang percaya diri. Dalam hal pengguna atau user pada awal mulanya smartphone ini hadir hanya beberapa orang kalangan tertentu yang dapat memiliki dan menikmatinya, semisal orang kantoran, pekerja yang mendapatkan penghasilan yang lebih dari rata-rata. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi dan permintaan pasar yang begitu besar, maka banyak para produsen yang berlomba-lomba untuk memproduksi secara masal.



Produksi besar-besaran yang dilakukan oleh para perusahaan telekomunikasi berimbas pada jumlah konsumen yang meluas baik level bawah hingga atas, baik muda maupun tua, pelajar hingga pejabat publik pun juga menggunakannnya. Bagi para eksekutif atau pekerja smartphone sangat membantu dalam hal bisnis dan investasi usahanya karena dapat menghubungkan ke banyak mitra kerjanya. Bagi para pelajar pun juga memiliki manfaat yang begitu besar, karena dapat memberikan informasi dan beberapa kebutuhan yang diinginkan oleh pelajar yang berkaitan dengan pelajaran ataupun tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Begitu pun juga para mahasiswa yang membutuhkan informasi tentang lowogan pekerjaan ketika dia lulus nanti, ataupun info tentang tugas mata kuliah.

Seiring dengan semakin matangnya kecanggihan dalam hal akses internet dan kebutuhan komunikasi smartphone tidak hanya terbatas pada fitur pesan dan panggilan, namun juga sebagai alat yang punya peran penting dalam kehidupan. Pada sebuah riset di AS ditemukan bahwa telah banyak sisi negatif yang ditimbulkan dari penggunaan aplikasi gadget secara kontinyu bagi pelajar. Salah satunya, contoh fakta yang disajikan bedasarkan hasil riset Statistika mengemukakan bahwa: "sebanyak 17% anak berusia di bawah 20 tahun di Amerika Serikat menggunakan komputer, tablet atau smartphone setiap hari. Angka ini merupakan satu per tiga dari jumlah anak yang menghabiskan aktivitas sehari-harinya dengan membaca buku oleh orang tuanya". Hal ini membuktikan begitu besar anggapan yang ada pada pemikiran para pelajar bahwa dengan gadget yang dia miliki mampu mengalahkan peran buku yang secara ilmu lebih nyata isinya.

Selain dampak ketergantungan yang begitu hebat yang ditimbulkan, gadget juga dapat membuat konsenstrasi siswa atau mahasiswa menurun ketika menerima sebuah pemaparan materi yang disampaikan oleh pendidik. Untuk para mahasiswa, sering kali kita jumpai ketika ada kawannya yang sedang memaparkan hasil makalah, mereka kebanyakan yang duduk sebagai peserta diskusi hanya asyik dengan gadget yang dimilikinya tanpa sedikitpun memberikan perhatian untuk materi yang disampaikan oleh temannya tersebut. Termasuk juga ketika dosen memberikan materi pembelajaran, mahasiswa terlihat sibuk memainkan gadgetnya. Aplikasi- aplikasi yang tersedia atau yang telah diunduh seperti sosial media, game dan fitur lainnya membuat penggunanya seakan-akan telah terhipnotis untuk terus memainkannya termasuk dalam kelas kuliah, tentunya ini fakta yang ironis terutama dalam hal konsentrasi belajar dan penerimaan materi pembelajaran.

Menurunnya daya konsentrasi pada saat proses pembelajaran berlangsung sangat berdampak pada hasil yang diterima ketika pembelajaran tersebut selesai. Kurangnya pemahaman sewaktu menerima materi pembelajaran di kelas dikarenakan rendahnya konsentrasi belajar ini akan berdampak pada penyelesaian tugas belajar. Ketika mahasiswa mendapatkan tugas ia hanya cukup dengan mencarinya disebuah situs internet saja tanpa melihat isi kesuaian pada tema tugas tersebut. Sehingga kalau hasil tugas seperti makalah atau hasil penelitian tidak bermutu dan berbobot, tentu itu adalah fakta ironis berikutnya dari kebiasaan mereka yang gemar copy-paste dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

Pada sebuah penelitian terhadap dampak gadget terhadap penurunan daya konsentrasi siswa menunjukkan bahwa ketika seorang anak terlalu banyak menggunakan gadget, ia akan mengandalkan gadget untuk mengerjakan berbagai hal. Kebiasaan main game yang berlebihan juga menyebabkan anak lebih senang berimajinasi seperti tokoh game yang sering dimainkan dengan gadget-nya. Hal ini menyebabkan konsentrasi anak menjadi lebih pendek, dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Hal ini tentunya dapat menyebabkan anak sulit berkonsentrasi saat belajar, yang berdampak pada penurunan prestasi di sekolah.

Dengan menggunakan gadget, anak memang jadi lebih mudah dalam belajar. Namun jika terlalu mengandalkan gadget, anak jadi mengalami ketergantungan, sehingga jika tidak menggunakannya, ia akan merasa sulit untuk melakukan pekerjaannya. Selain itu, tampilan visual pada gadget yang menarik dan menggoda dapat membuat anak malas mengembangkan imajinasinya. Keberadaan gadget yang membuat segala sesuatu menjadi instan alias serba cepat membuat anak tidak tertantang untuk melakukan analisis dalam menghadapi permasalahan. Dengan begitu besarnya daya komsumtif terhadap gadget yang menyebabkan sang anak menjadi kurang mampu mengendalikan emosi dan jiwanya dalam suatu hal.

Tidak terkendalinya emosi dan jiwa adalah suatu akibat dari daya konsentrasi yang berkurang dikarenakan ketika mendapati sebuah masalah siswa tidak mau untuk menganalisis suatu masalah tersebut dan langsung memberikan action agar cepat terselesaikan masalah itu dengan cepat tanpa mengetahui proses penyelesaiannya. Hal ini akan menjadi sebuah gaya baru yang akan menjadi sebuah kebiasaan yang membudaya yang menjadikan anggapan “yang penting selesai”, tanpa harus tahu proses pemecahan masalah. Dampaknya apabila mendapati suatu masalah besar dimana sebuah gadget tidak mampu lagi membantunya dalam pemecahan masalahnya, hal itu akan membuat otak atau pikiran stres dan membuat siswa akan menghalalkan segala cara dalam pemecahan masalahnya.

(Arif Yuswanto)
Edisi Cetak: Buletin Lamperan Edisi III/ September/ 2014

Post a Comment

0 Comments