Righ Header

Pak Tatung, Sang Revolusioner dari Pelosok Riau

Pak Tatung

Sosok itu adalah tokoh yang patut diberikan penghargaan yang tinggi atas apa yang ia berikan kepada masyarakat Taman Nasional Bukit Tigapuluh (Riau). Ya, sosok yang sudah mulai menua dengan senyumnya yang hangat itu mampu menarik hati masyarakt pedalaman TNBT sehingga para orang tua disana mengizinkan anak-anaknya untuk belajar, bersekolah dengan ia.

Syafaruddin atau yang lebih akrab disapa pak Tatung ini rela mengorbankan jiwa dan raga nya demi memberikan pendidikan di pedalaman hutan TNBT Riau ini.

Tekad yang begitu kuat dari dalam dirinyademi memberikan pendidikan pada anak-anak berangkat dari keprihatinan dan kesedihan hati nya atas apa yang telah dilakukan seorang tauke (pemborong/pembeli) kepada anak anak penjual petai talang mamak di dusun Datai. Tauke itu menipu anak anak penjual petai di depan mata pak Tatung sendiri ketika anak anak yang telah memanen petai menjual petai mereka kepada seorang tauke itu dengan kesepakatan harga per ikat nya yaitu sebesar tiga ribu rupiah, dengan jumlah ikat petai sebanyak lima puluh ikat. Dengan perhitungan yang benar maka seharusnya anak anak ini menerima uang sejumlah seratus lima puluh ribu rupiah, tetapi seorang tauke ini membodohi anak anak ini yakni dengan perhitungannya sendiri ia menunjukkan kalkulatornya pada anak anak itu dengan jumlah uang sebesar seratus dua puluh ribu rupiah. Karena anak-anak ini tidak mengerti baca, tulis dan hitung (buta aksara) mereka pun mengiyakan hasil kalkulator yang ditunjukkan pada mereka tadi. Akhirnya mereka yang seharusnya mendapatkan uang seratus lima puluh ribu tadi hanya mendapatkan uang sebanyak seratus dua puluh ribu rupiah saja. Dari situlah, pak tatung sebagai manusia yang memiliki hati nurani menegur perbuatan tauke itu, mengapa kau melakukan hal ini pada anak anak itu? Lalu apa jawab seorang tauke itu, ia menjawab biarkan sajalah, mereka itu tidak tahu dan tidak mengerti masalah perhitungan seperti ini.

Dari situlah hati kecil pak Tatung terketuk untuk memutus mata rantai kebodahan pada anak-anak pedalaman Talang Mamak dengan pendidikan sehingga praktik seperti ini tidak lagi terulang pada mereka. “Mereka harus bisa membaca, buta huruf, dan berhitung agar mereka tak lagi dibodohi”, ucap pak Tatung.Sejak itulah Pak Tatung mengabdikan dirinya untuk memberikan pendidikan pada anak-anak pedalaman Talang mamak.

Langkah awal yang ia lakukan adalah memohon restu pada pamannya yang saat itu bekerja sebagai kepala cabang dinas pendidikan di daerah Batang Gangsal (daerah tempat tinggalnya) , tetapi paman nya justru malah menertawakan dan menolaknya dengan anggapan bahwa seorang pak Tatung bisa apa, karena ia dahulunya ia hanyalah seorang yang tidak bersekolah serta menjadi seorang gurupun bukanlah hal yang mudah.

Selanjutnya, hal yang tak terduga muncul dari kepala pekon yang tak berpikir panjang untuk memberikan izin pada pak Tatung memberikan pendidikan pada anak anak disana.

Menjadi guru disana bukanlah karena materi yang beliau cari tetapi memang benar-benar ini adalah panggilan hati dari nya. Coba kita bayangkan apabila ini bukan panggilan hati,mana mungkin Pak Tatung mau menyusuri perjalanan jauh, melewati jalan hutan puluhan kilometer, naik turun bukit dan mengarungi sungai hanya dengan imbalanuang sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah dan beras sebanyak lima kilogram setiap bulannya dari kepala pekon.

Pak Tatung memberikan pendidikan baca tulis hitung kepada anak anak disana pada malam harikarena pada siang hari anak anak disana ikut orang tua ke ladang.Awalnya proses belajar mengajar dilakukan pak Tatung dengan pergi kedusun-dusun untuk mengajari mereka pengetahuan membaca, menulis dan berhitung tetapi setelah kegiatan ini direspon baik oleh pemerintah, akhirnya terjadi kerjasama antara masyarakat dan pemerintah datai untuk mendirikan bangunan sekolah. Dengan adanya bangunan sekolah ini tugas pak Tatung menjadi bertambah yaitu pada pagi hari ia mengajar anak-anak dan pada malam hari ia mengajar para orang tua disana yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung.Namun itu bukanlah Halangan yang berat bagi pak Tatung, karena tekad nya sudah bulat dan sudah menjadi cita-cita untuk menghentikan rantai kebodohan disana.

Tahun 2004 sampai saat ini, Pak tatung diangkat menjadi staff pengajar oleh Program Konservasi Harimau Sumatera (PKHS) karena pak tatung dianggap mampu beradaptasi dengan penduduk talang mamak dengan baik dan disitulah peran penting pak tatung yaitu memberikan pengetahuan dan pesan pesan moral kepada anak anak tentang penting nya menjaga kelestarian alam sejak dini dan dampak negatif yang ditimbulkan apabila kelestarian hutan dirusak.

Banyak pengalaman dan cerita menarik yang dijumpai pak Tatung dalam memberikan pendidikan baca,tulis dan berhitung disana. Ada seorang siswa yang setiap harinya meminta buku kepada pak tatung setelah ditelusuri ternyata buku yang diberikan oleh pak Tatung setiap harinya dibuat rokok oleh Bapak nya, pak Tatung pun hanya tersenyum mengetahui hal itu dan ada seorang siswa yang membuat orang tua nya heran atas sikap anaknya tersebut yang selalu menuliskan surat cinta, tetapi pak Tatung menanggapi dengan positif dan mengatakan pada orang tua siswa tersebut, “Itu adalah syair lagu, ini artinya anak bapak sudah pintar membaca dan menulis”. Kejadian atau hal yang paling berkesan bagi pak Tatung adalah Huruf-huruf dan angka-angka yang diajarkan Pak Tatung pada malam harinya, keesokan paginya akan mudah ditemui di dinding-dinding rumah mereka yang mayoritas terbuat dari papan.

Berkat kesungguhan, ketekunan dan keikhlasan dari pak Tatung, sang inspirator, sang revolusi dari pelosok riau ini telah memberikan dampak positif yang dapat dirasakan manfaatnya ole para penduduk. Menurut Pak Tatung, anak-anak Talang Mamak sudah mulai bisa membaca, menulis dan berhitung dan para penduduk pun merasakan manfaat yang luar biasa akibat kedatangan pak Tatung disana baik bagi diri mereka maupun bagi anak-anak mereka.

Semoga anak anak dan penduduk Talang Mamak bisa menerapkan pengetahuan yang telah diberikan Oleh Pak Tatung dan mereka sudah bisa menghindarkan diri mereka semua dari pembodohan dan penipuan.

Selanjutnya, mana aksi kita sebagai pendidik saat ini? Tanyakan pada hati kecil mu yang terdalam.

(Nanda Nursyah Alam)

Post a Comment

0 Comments