Righ Header

Mahasiswa Praktikan PPL-KKN Perlu Sadar Teknologi Pembelajaran


Kegiatan PPL-KKN Intergratif Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan tahun 2013 memang sudah berlalu beberapa bulan yang lalu, namun ada beberapa hal yang masih relevan untuk diperbincangkan. Salah satu diantaranya adalah mengenai penggunaan dan pemanfaatan teknologi pembelajaran dalam praktik mengajar maupun tugas sekolah lainnya selama mahasiswa diterjunkan di sekolah. Terlebih lagi terhadap mahasiswa yang berada di sekolah yang sudah menerapkan kurikulum terbaru, yakni kurikulum 2013. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kurikulum 2013 menuntut pendidik untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi pembelajaran terutama dalam hal pendekatan, metodologi dan strateginya. Kurikulum 2013 meniscayakan seorang pendidik untuk menguasai teknologi pembelajaran sebagai sarana atau media pembelajaran, karena dengan sistem yang baru ini tidak lagi mungkin guru menggunakan metode konvensional seperti ceramah.

Mahasiswa praktikan yang mempunyai tugas dan kewajiban untuk mengajar di sekolah selayaknya mempunyai kesadaran tentang pentingnya teknologi pembelajaran ini, sehingga mahasiswa mampu mengembangkan metode pembelajarannya ketika praktik mengajar maupun kegiatan sekolah lainnya.

Rizqy salah satu mahasiswa peserta PPL-KKN integratif yang ditempatkan di sekolah yang sudah menerapkan kurikulum 2013 mengungkapkan tentang betapa pentingnya mahasiswa untuk menguasai teknologi pembelajaran. Ia menuturkan bahwa sebelum melaksanakan PPL-KKN kiranya mahasiswa perlu membekali dirinya dengan skill terutama dibidang teknologi informasi dan komunikasi. “Penguasaan terhadap teknologi pembelajaran sangat membantu ketika kita sedang melaksanakan praktik pembelajaran di sekolah. Penguasaan teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membuat media pembelajaran yang lebih menarik dan memancing minat siswa untuk belajar. Selain itu skill ini juga diperlukan untuk membantu guru lain yang membutuhkan bantuan. Disekolah saya masih banyak guru usia lanjut yang belum familier dengan teknologi, malu dong masa mahasiswa tidak bisa membantunya” ungkapnya, mahasiswa semester tujuh yang kini mulai mengerjakan skripsi ini.

Hal senada diungkapkan oleh Fadhli, dia menceritakan pengalaman ketika PPL-KKN di salah satu MTsN favorit di Yogyakarta, menurutnya bahwa kondisi fasilitas di sekolah mendukung untuk diterapkannya pembelajaran berbasis ICT. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu tingkatkan seperti fasilitas WiFi yang masih di beberapa tempat saja. Selain itu, hal yang perlu ditingkatkan adalah kualitas SDM-nya. Agar tercapainya tujuan kurikulum maka diperlukan SDM yang memadai dalam hal ini adalah guru yang yang notabene adalah pelaksana di lapangan. Namun berdasarkan hasil komunikasinya dengan beberapa guru ia menuturkan” Sebenarnya di sekolah tempat saya PPL-KKN masih ada beberapa guru yang kurang menguasai teknologi, guru tersebut sadar bahwa ia kurang menguasai teknologi, tetapi karena kesibukannya ia enggan untuk mempelajari teknologi.”

Masih menurut Fadhli bahwa kesadaran terhadap ketidakmampuan dalam menggunakan teknologi pembelajaran ini ada, akan tetapi kemauan untuk belajarlah yang tidak ada, ia menambahkan “Saya bahkan pernah menawarkan untuk diadakannya workshop pengembaangan multimedia pembelajaran berbasis ICT untuk meningkatkan dan meng-upgrade pengetahuan mereka dalam teknologi pembelajaran, namun ditolak dengan alasan karena sibuk akreditasi dan sebagainya, padahal dari segi fasilitas dan sarana lainnya hal itu sangat mungkin dilaksanakan. Selain itu kebijakan pemimpin tentu masalah lainnya yang perlu disorot. Jadi saya kira sekolah lebih mementingkan nilai daripada pengembangan sumber daya manusianya itu sendiri”. Ketika ditanya pengelamannya sendiri ketika dalam hal menggunakan teknologi dalam praktik mengajar, ia menggarisbawahi sebagai berikut “Oh kalau itu jelas, saya mempraktikkan pembelajaran berbasis teknologi, beberapa kali saya praktikkan contohnya menggunakan media presentasi sebagai prosedur pengamatan siswa misalnya, bahkan saya diminta untuk member kursus pada salah satu guru di sana karena tertarik dengan kemampuan saya tersebut, bukan sombong lo, tapi memang begitu yang saya alamai” tukasnya bersemangat.

Pengalaman lain juga dirasakan oleh Kurnia ketika sedang melaksanakan PPL-KKN di sebuah SMP Negeri di Sleman, dirinya bercerita bahwa sering dimintai guru untuk membantu pekerjaannya yang berhubungan dengan teknologi, entah itu mbeneri proyektor yang ngadat, komputer yang terkena virus, membuat desain untuk acara tertentu dan lain sebagainya. Menurutnya akan sangat canggung ketika mahasiswa dimintai bantuan untuk mengerjakan pekerjaan administrasi atau praktik pembelajaran yang menggunakan teknologi tapi menolak atau tidak bisa mengerjakan karena keterbatasan kemampuan, beberapa temannya bercerita demikian.

Ketika ditanya terkait fasilitas yang disediakan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sendiri untuk membekali mahasiswanya dalam bidang penguasaan teknologi pembelajaran ia mempunyai pendapat menarik. “Saya kira Fakultas kita sudah sangat terdepan dalam hal ini, yakni dengan adanya Laboratorium Multimedia Pembelajaran atau juga teman-teman kenal dengan nama DPP TIK. Lab (laboratorium red) menyelenggarakan berbagai macam pelatihan di bidang ICT yang sudah cukup memadai untuk membekali mahasiswa ketika akan melaksanakan PPL-KKN atau untuk kebutuhan jangka panjang baik bidang pendidikan maupun kebutuhan perkantoran dan bahkan bisnis. Program pelatihan yang ditawarkan sudah sangat variatif dan mendukung untuk dikembangakan dalam kontek teknologi pembelajaran seperti Adobe Flash, Lectora Inspire, SPSS, Microsoft Office, dan Desain grafis yang meliputi CorelDraw, Adobe Photoshop, dan Adobe Indesign.”

Muhammad Tria/ Redaksi
Edisi Cetak: Buletin Lamperan Edisi II/ Desember 2013

Post a Comment

0 Comments