Righ Header

Karakter atau Ilmu Pengetahuan?



Ketika kita berbicara tentang sebuah sistem pendidikan dimana didalamnya ada sebuah proses belajar mengajar, kaitan tersebut tidak lepas dari dua unsur pokok penting yaitu guru dan peserta didik. Dua unsur inilah yang menjadikan adanya komunikasi antara penyalur ilmu dan penerima ilmu, dimana di dalamnya terdapat interaksi edukatif yang saling membangun.

Guru adalah ia yang bertanggung jawab terhadap anak didiknya baik dalam sekolah maupun di luar sekolah, ia tidak akan melepaskan tanggungjawab begitu saja ketika apa yang menjadi kewajibannya “memberikan ilmu” kepada peserta didik, lantas lepas tangan terhadap pengawasan perkembangan peserta didik, lebih lagi jika peserta didik telah pulang kepada pangkuan kedua orang tuanya. Disini perlu adanya kerjasama yang baik antara guru dan orang tua peserta didik dalam pengawasan perkembangan peserta didik. Bukan hanya penekanan pada ilmu pengetahuan yang telah ia kuasai, juga harus diimbangi dengan karakter yang baik.

Manusia dilahirkan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, diberikan oleh Allah akal dan intuisi untuk menyeimbangi kehidupan yang akan ia jalani. Diasuh oleh kedua orang tua dimana keluarga merupakan faktor utama dalam pembentukan karakter bagi peserta didik, sebagai seorang manusia, peserta didik yang hanya bisa meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya, menjadi tanggung jawab yang besar bagi kedua orang tua dalam penanaman dasar karakter bagi anak-anak mereka, pola asuh yang baik dalam keluarga akan mencetak anak yang baik, begitupun sebaliknya, pola asuh yang salah akan menjadikan anak mereka pribadi yang kurang baik pula. Selain dari faktor individu itu sendiri dan juga keluarga, faktor ketiga dalam pembentukan karakter peserta didik adalah lingkungan, baik itu dalam masyarakat maupun sekolah. Tiga faktor ini yang bersinggungan langsung dalam pembentukan karakter seorang manusia, pembahasan yang berlanjut mengenai pembentukan karakter peserta didik dalam topik utama ini berkaitan dengan lingkungan khususnya sekolah, disini peran seorang guru seperti telah disinggung dalam pembahasan di atas, penanaman sikap norma dan karakter penerapan yang baik dimulai sejak peserta didik mengenyam pendidikan sekolah dasar, hal ini sangat berpengaruh nantinya jika peserta didik sudah mulai tumbuh dewasa, karena pada usia-usia dini inilah kesan pertama sangat kuat dan berperan besar untuk kehidupan mendatang.

Dalam sebuah sistem belajar, ada beberapa peran guru yang penting yang nantinya berkelanjutan apakah akan menghasilkan output yang rendah, rata-rata atau bahkan istimewa, hal ini tergantung dari keprofesionalan seorang guru dalam mengajar peserta didiknya. Kita sebagai calon pendidik yang nantinya akan terjun di dalam masyarakat, entah apa jurusan yang kita tekuni sekarang, dalam masyarakat yang masih bersifat tradisional, mereka akan menganggap seorang mahasiswa adalah ia yang mengetahui dan pandai dalam berbagai hal, harus serba bisa dan cekatan dalam berbagai bidang. Hal ini tentu saja merupakan pe-er besar bagi kita para calon pendidik bangsa, belum lagi jika nantinya kita akan memasuki dunia mengajar, padahal, belum tentu semua yang berada dalam institute dunia pendidikan dapat dengan baik menjadi guru yang serba bisa, karena dari dalam diri tiap masing individu berbeda. Untuk itu, alih-alih kita harus mengetahui bekal apa sajakah yang harus dimiliki oleh seorang guru yang baik, persyaratan seorang guru:

1. Takwa kepada Allah SWT

“Ing ngarso sung tulodho” artinya di depan memberikan contoh, kita sebagai pengajar yang nantinya menjadi tauladan bagi peserta didik, harus memberikan contoh yang baik. Tidak mungkin kita menyuruh anak didiknya agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT jika kita sendiri tidak bertakwa kepada-Nya.

2. Berilmu
Ijazah adalah patokan jika dia sudah mempunyai cukup ilmu pengetahuan yagn akan diajarkan untuk anak didiknya, bukan semata-mata hanya secarik kertas. Guru harus berijazah agar dia bisa mengajar, kesimpulannya guru harus berwawasan luas dan berilmu tinggi jika ia akan menularkan ilmu kepada peserta didik. Semakin tinggi pendidikan seorang guru, makin baik pula system pendidikan dan pada gilirannya makin tinggi pula derajat masyarakat.

3. Sehat Jasmani

“Mensana in corpora sano” didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yng kuat, guru yang berpenyakitan akan berpengaruh kepada semangat mengajar sehingga akan terpaksa meninggalkan jam yang ia ampu, maka akan merugikan peserta didik yang tidak mendapatkan haknya secara optimal.

4. Berkelakuan Baik
Bukan hanya tubuha yang harus kita jaga, tetapi sikap dan tinbgkah laku kita sebagai seorang pendidik harus menjadi teladan karena anak-anak bersifat suka meniru. Tentu saja akhlak dalam artian ini adalh yang sesuai dengan ajaran Rosul.

Inilah empat persyaratan penting bagi seorang calon pendidik, bukan hanya otak yang harus terisi namun hati dan badan juga harus dijaga, agar apa yang menjadi cita-cita kita bersama dalam memajukan bangsa ini dapat tercapai dengan baik.

Jangan lupa, terus berlatih agar kita dapat menjadi pendidik yang senantiasa memajukan bangsa “Salam Pendidikan”

(Dhiny Amalia Yusuf)

Post a Comment

0 Comments