Righ Header

Data Pribadi Mahasiswa, Anda Harus Tahu


Tentunya sudah tidak asing lagi di telinga pembaca sekalian tentang istilah DPM, istilah ini akan sering kita dengar ketika herregestrasi di universitas. DPM merupakan singkatan dari Data Pribadi Mahasiswa. Setiap mahasiswa, khususnya mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga ini diharapkan selalu memperbarui data pribadinya. Sebagaimana informasi dari Bapak Agung Fatwanto, M.TI., Ph. D selaku Kepala PTIPD UIN Sunan Kalijaga, menurutnya DPM mempunyai tujuan internal dan eksternal. Berikut penuturannya terkait tujuan internal: “Tujuan adanya DPM yaitu untuk mengetahui kondisi pribadi mahasiswa, seperti tempat tinggal mahasiswa, background pendidikan terakhirnya bagaimana, juga untuk mengetahui demografi keluarganya”. Masih menurutnya dengan adanya DPM yang valid maka akan berfungsi sebagai dasar untuk melakukan rencana pengembangan universitas ke depannya, misalnya dalam hal pembangunan, kemajuan universitas, dan lain-lain. 

Misalkan saja pada data penggunaan sarana transportasi yang dipakai mahasiswa, jika dari data yang didapatkan banyak mahasiswa yang menggunakan mobil, maka pihak universitas bisa saja merencanakan untuk pembangunan tempat parkir supaya memadai. Misalnya juga, dari DPM didapatkan data mengenai asal mahasiswa, jika mahasiswa rata-rata hanya dari DIY saja, maka harus diadakan sosialisasi yang lebih luas ke daerah-daerah lain. Sedangkan tujuan eksternal dari DPM yaitu untuk memberikan data untuk Pemerintah pusat. DPM juga bertujuan untuk kepentingan dan kemajuan mahasiswa itu sendiri. Dalam DPM juga terdapat banyak data yang discan, terutama untuk mengetahui kondisi ekonomi keluarganya. Selanjutnya, dari kondisi tersebut akan digunakan kembali untuk mahasiswa juga, seperti untuk pengajuan beasiswa, dan program-program lainnya. 

Selain DPM, SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah) juga menjadi satu informasi hangat yang perlu dipahami mahasiswa. SKPI merupakan salah satu data yang ada dalam DPM juga, sehingga nantinya ketika mahasiswa akan lulus, harus mengisi data mengenai sertifikat atau prestasi apa saja yang diperoleh. Misalnya seperti pernah mengikuti pelatihan pengembangan ICT, pelatihan jurnalistik, mengikuti kursus di suatu lembaga, dan lain-lain. Maka pihak PTIPD dan Universitas harus mengikuti peraturan tentang DPM dan SKPI yang telah dijelaskan tersebut. Sehingga seperti yang kita lihat bahwa ada banyak data yang harus dipersiapkan, seperti Surat PBB, Akte Kelahiran, kwitansi pembayaran listrik, Kartu Keluarga, nilai raport, Ijazah, surat keterangan penghasilan orang tua, surat keterangan berlangganan TELKOM, internet, PDAM, dan lain-lain. Ada banyak sekali data yang harus dimasukkan/ diperbarui secara online, sehingga mahasiswa harus melakukan scanning data terlebih dahulu dalam bentuk pdf atau jpg agar bisa memasukkan data pribadinya. Data pribadi yang harus dimasukkan tidak hanya berbentuk file scanning, tapi juga dalam bentuk kuisioner yang jumlahnya tidak sedikit, seperti data mengenai hobi, data keluarga, data prestasi, data riwayat pendidikan, dan lain-lain. 

Masih menurut penuturan Agung Fatwanto pengisian DPM juga dianjurkan bagi mahasiswa baru yang masuk di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. DPM ini diisi secara online pada website UIN Sunan Kalijaga. Sosialisasi DPM juga sudah dilakukan ketika mahasiswa baru diterima. Dulu, data pribadi yang dimasukkan tidak sebanyak data yang dimasukkan saat ini. Hal ini juga ada hubungannya dengan pemberlakuan Uang Kuliah Tunggal (UKT). UKT merupakan uang kuliah yang harus ditanggung siswa selama masih aktif kuliah. UKT ini mulai diberlakukan untuk mahasiswa angkatan 2014, dan seterusnya. Seluruh universitas harus mengikuti Peraturan Pemerintah dalam pemberlakuan UKT. Karena prinsip UKT itu sendiri yaitu subsidi untuk yang kurang mampu. Maka banyak data yang harus diisi sesuai dengan keadaan mahasiswa tersebut, tidak bisa diisi asal-asalan saja. Hal tersebut terkait dengan data otentik yang nantinya akan digunakan untuk penggolongan kategori UKT. Biaya UKT yang ditanggung per siswa pun berbeda-beda. Ada 3 kategori, yaitu 400.000/semester, 600.000/semester, dan kategori terakhir yaitu diatas 1.000.000/semester. Sehingga pengisian DPM tidak bisa dianggap remeh, karena nantinya akan memberi dampak juga bagi mahasiswa. Ketelitian juga sangat diperlukan dalam mengisi data ini, karena untuk mahasiswa baru, pengisian DPM ini akan berimbas pula pada biaya UKT per semester. 

Adapun kesalahan teknis dari mahasiswa saat pengisian DPM, seperti yang dijelaskan oleh Bapak Agung Fatwanto, yaitu kesalahan saat memasukkan angka, kelebihan angka “0” (nol). Kesalahan tersebut tentu berpengaruh sekali, karena yang seharusnya mendapat golongan 1, karena kesalahan teknis tersebut, sehingga menjadikan mahasiswa masuk ke golongan 3 yaitu UKT di atas Rp. 1.000.000,- . Adapun kesalahan teknis lainnya, seperti kurang paham mengenai data yang diupload, misalnya ada 3 data penghasilan, yaitu pengahasilan ayah, ibu, dan wali. Jika ayah berpenghasilan, maka seharusnya mengisi keterangan slip gaji ayahnya. Namun, jika ibu nya tidak berpenghasilan, sebaiknya meg-upload surat keterangan yang menjelaskan bahwa ibunya tidak berpenghasilan, bukan justru memasukkan data penghasilan ayahnya ke kolom data penghasilan ibu dan walinya. Sehingga nantinya yang terjadi adalah salahnya penggolongan UKT, karena yang mengolah selanjutnya adalah sistem. Jika ada kesalahan, permasalahan, dan komplain dari mahasiswa mengenai UKT yang dibayarkan, maka mahasiswa bisa mengajukan banding dengan pengajuan surat revisi ke Rektorat.
Maka, mengisi DPM ini sangatlah penting untuk kepentingan bersama. DPM juga harus diisi sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Jika diisi secara asal-asalan, maka dampak yang akan dirasakan bukan sekarang, tapi nanti ketika akan lulus. DPM ini bisa di perbarui setiap saat, tidak hanya saat regestrasi dan herregestrasi saja. Bagaimanapun DPM ini harus kita sikapi secara arif, tentang tujuannya sehingga mampu benar-benar menjadi manfaat khususnya bagi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

Reporter: Rizka Hidayah
Edisi Cetak: Buletin Lamperan Edisi IV/ Desember 2014

Post a Comment

0 Comments