Righ Header

Minat Baca di Era Digital


Membaca pada dasarnya adalah suatu kebutuhan yang digunakan untuk menambah informasi, meningkatkan pengetahuan, serta wawasan pembaca. Membaca menurut kamus besar bahasa Indonesia yaitu melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hati. Salah satu manfaat dari membaca yaitu daya pikir kita dapat berkembang. Sedang digital berasal dari bahasa Yunani: Digitus yang artinya jari jemari, dan apabila diterjemahkan secara harfiah bisa diartikan segala sesuatu yang dilakukan mulai dengan jemari tangan kita.

Seiring dengan mobilitas manusia era modern, buku bukan lagi satu-satunya sumber informasi, buku sudah mulai jarang dilirik oleh masyarakat. Kecepatan untuk mengakses informasi dari berbagai media semakin mudah, di sela hambatan transportasi yang belum terpecahkan. Di era modern, membaca dapat dilakukan seperti “multitasking” pada rutinitas kegiatan manusia. Bisa dikatakan lebih efisien dan efektifitas. Beberapa media konvensional seperti buku atau majalah maupun surat kabar sudah dalam bentuk digital  yang dapat dibaca dari berbagai perangkat, seperti tablet dan smartphone, tak lupa juga dari PC maupun netbook. Jenisnya juga beragam, mulai dari image, pdf maupun web html. Sekarang bukan hal yang aneh jika kita menemui seseorang di ruang tunggu ataupun mahasiswa di ruang kelas sedang asyik dengan gadget seperti tablet maupun smartphone-nya. Dengan benda-benda tersebut seseorang lebih mudah dalam membaca. Hal ini juga tidak lepas dari turut andilnya vendor penyedia internet yang semakin hari semakin terjangkau.  

Ditambah dengan hadirnya aplikasi Scoop yang dapat diunduh di App Store maupun Google Play. Kita tak perlu lagi datang ke toko buku untuk membeli buku ataupun majalah, dari gadget  kita hanya memilih majalah atau buku yang diinginkan, kemudian tinggal membayar untuk menggunakannya. Akan tetapi, bagaimana dengan minat baca masyarakat disekitar kita, lebih general lagi minat baca masyarakat Indonesia yang menurut data merupakan Negara Asean yang paling rendah minat bacanya. Ini masalah serius. Karena dengan membaca, kita semakin dekat dengan kesuksesan.  

Pergeseran era digital juga terjadi pada bidang ilmiah. Perpustakaan yang dulu banyak dikunjungi, sekarang semakin menurun pengunjungnya. Pengunjung tidak mau menghabiskan waktu lama-lama di perpustakaan, karena mereka dapat mengaksesnya dari luar perpustakaan. Misalnya dari rumah, mereka bisa mengakses informasi melalui internet.

Untuk meningkatkan minat baca masyarakat di perpustakaan, pengelola harus mampu memanfaatkan serbuan teknologi. Salah satu strategi yang dapat diambil bagi pengelola perpustakaan adalah dengan menyediakan fasilitas online bagi pengunjung. Tren digital library atau perpustakaan digital sudah mulai dikembangkan. Hal ini dapat ditandai dengan hadirnya ebook.  Mereka tidak perlu bergulat dengan panas, terjebak macet, juga tidak perlu dipusingkan dengan mencari di katalog dengan waktu yang lama, karena semua informasi dapat diakses dari kamar mereka tanpa terbentur jam operasional perpustaakan. Era ini akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan kesadaran kita akan pentingnya membaca.

Kemudian, adakah dampak yang berkaitan dengan membaca di era digital? Pastinya ada. Kita dapat melihat dampak yang terjadi dari dua sisi, sisi positif dan negatif. Dari sisi positif, membaca di era digital lebih mudah untuk mencari informasi dengan menggunakan fitur search. Membaca di era digital juga memudahkan bagi penyandang difable, mereka dapat lebih mudah mengakses informasi dari perangkatnya dengan menggunakan aplikasi jaws.

Manfaat lain yang dapat kita ambil dari membaca di era digital ini adalah kepraktisan dalam membawa, tidak seperti buku konvensional yang cukup merepotkan, selain  berat juga makan tempat di tas. Di era digital ini, beberapa buku dan majalah bisa langsung dibawa pada perangkat smartphone atau tablet. Dengan bentuk yang digital, pengguna dapat menyimpannya dalam bentuk mass storage device, baik usb flashdisk, microSD, netbook, maupun pada smartphone dan kemudian bisa membacanya kapan saja. Sisi positif yang lain yaitu hemat, harga kertas yang semakin naik membuat harga majalah dan koran cetak semakin mahal. Dua sisi ini: praktis dan hemat sudah membuat masyarakat beralih ke era digital.

Sedang dari sisi negatif membaca di era digital yang berkaitan dengan minat baca masih rendah dapat berhilir pada budaya copy paste. Era digital mempermudah oknum tertentu untuk melakukan penjiplakan. Kalau sudah seperti ini, kapan munculnya orisinalitas ide-ide?. Jika ingin memiliki daya tulis yang baik, maka harus ditopang oleh daya baca yang baik pula. Sisi negatif lainnya seperti mata menjadi cepat letih, kebanyakan orang akan mengalaminya. Terlbih bagi sebagian orang yang mempunyai gangguan mata, akan lebih cepat mengalaminya.

Sebagai agent of change, mahasiswa harus mampu menumbuhkan minat baca, mulai dari diri sendiri, kemudian lingkungan sekitar, terutama di lingkungan keluarga. Buku merupakan salah satu syarat mutlak yang diperlukan untuk pengembangan program, pengembangan minat, pengembangan pengetahuan, khususnya bagi anak kecil yang tentunya belum begitu banyak mengenal teknologi digital. Dari sini dapat ditegaskan, bahwa fungsi buku memberikan tempat tersendiri bagi pengembangan anak. Akan tetapi, buku sendiri merupakan media visual. Untuk menarik minat baca anak, kita bisa menggunakan media digital yang berbasis audio visual, kemungkinan besar anak akan lebih tertarik, tentunya dengan pendampingan orang dewasa. Semoga dengan meningkatnya budaya membaca akan membawa dampak positif bagi kemajuan martabat bangsa Indonesia.

(Khoiril Mawahib)
Edisi Cetak: Buletin Lamperan Edisi III/ September/ 2014

Post a Comment

0 Comments