Righ Header

Menggagas Ujian Nasional (UN) Berbasis Teknologi Masa Depan

Ujian Nasional (UN) adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Tujuan dari dilaksanakannya UN adalah menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun dasar hukum Ujian Nasional:

1. Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas

2. PP No 19 Tahun 2005 ps 65, 66 s.d 70 tentng Standar Nasional Pendidikan

3. Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan

4. Permendikbud Nomor 69 Tahun 2013, Kriteria Kelulusan Peserta Didik Dari Satuan Pendidikan dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan dan Ujian Nasional

5. Peraturan BSNP No. 0022/P/BSNP/XI/2013 tentang POS UN 2014


UN bertujuan untuk menyamakan atau menstandartkan ujian secara nasional. Dengan kata lain semua siswa diperlakukan seolah-olah sama. Faktanya, mereka sangat beragam dalam kemampuan intelektual, daya serap, muatan akademis, latar belakang ekonomi, kondisi keluarga, dan lain sebagainya. Belum lagi keberagaman fasilitas sekolah tempat mereka belajar, akses terhadap teknologi dan informasi, maupun kemampuan metodologis guru-guru mereka. Siswa yang bersekolah di kota tentu mempunyai kesempatan lebih besar untuk mendapatkan sumber-sumber belajar yang layak. Siswa dengan latar belakang ekonomi kuat mempunyai kesempatan untuk menuntut ilmu di sekolah-sekolah dengan fasilitas belajar yang baik, dan oleh karena itu memiliki peluang lebih besar untuk berprestasi. Lain halnya dengan sekolah-sekolah di pinggiran, pedesaan, apalagi daerah pedalaman. Bagaimana mungkin siswa-siswa yang sangat beragam ini diukur prestasi akademik dan kelulusannya dengan standar yang sama.

Sudah menjadi isu dan fakta yang miris terkait penyelenggaraan UN, kecurangan-kecurangan baik dilakukan oleh siswa atau bahkan dimotori oleh guru adalah sebagian dampak buruk dari sistem UN ini. Kecurangan-kecurangan seperti bocornya soal hingga diperjual-belikan kunci jawaban atau bahkan menyontek massal di sekolah yang dimotori guru seharusnya menjadi kritik pedas yang harus diterima oleh pemerintah dan Badan Nasional Standar pendidikan (BNSP) selaku penyelenggara UN. Sistem yang selama ini berjalan perlu diubah agar UN mampu menjadi solusi bagi pendidikan Indonesia bukan justru malah terlahir sebagai masalah baru pendidikan Indonesia.

Di zaman sekarang ini teknologi sudah sangat melesat maju, hampir semua pekerjaan bisa digantikan dengan teknologi robotika. Teknologi telah mengubah wajah baru peradaban masa kini dengan segala kecanggihan dan manfaat yang dimilikinya. Namun dalam dunia pendidikan Indonesia nampaknya penggunaan dan pemanfaatan teknologi ini belum begitu maksimal.

Software dan hardware untuk menunjang aktifitas pendidikan telah banyak dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan perekayasa teknologi. Beberapa negara lain telah begitu besar memanfaatkan teknologi dalam dunia pendidikan, yang akhirnya juga mengangkat kualitas dan mutu pendidikan itu sendiri. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi pemerintah terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selaku pemegang regulasi kebijakan pendidikan Indonesia. Dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, sangatlah mungkin mensinergikan teknologi pada semua aspek pendidikan termauk dalam penyelenggaraan Ujian Nasional.

Di luar polemik tentang penyelenggaran UN itu sendiri, ada gagasan baru yang cukup menarik yaitu Ujian Nasional berbasis teknologi. Sistem penyelenggaraan UN yang konvensional saat ini adalah salah satu pemicu berbagai masalah kecurangan dan juga kesalahan hasil UN. Meskipun selama ini teknologi sudah mengambil peranan dalam UN yaitu untuk mengoreksi jawaban siswa, namun hal ini masih terlihat setengah-setengah. Bisa saja karena faktor pensil yang digunakan untuk membualati jawaban pada lembar kertas jawaban siswa, atau faktor hasil bulatan itu sendiri yang kurang tebal atau terhapus oleh gesekan kertas selama proses pengepakan lembar jawaban adalah faktor yang menyebabkan hasil ujian yang tidak memuaskan bagi sebagian siswa. Tentunya ini hal ironis dari sekian banyak problematika UN konvensional selama ini.

Mengingat sudah adanya software dan hardware yang memungkinkan ujian dalam format digital, sinergi teknologi dalam penyelenggaraan Ujian Nasional seharusnya bisa dilaksanakan seoptimal mungkin. Ketika melaksanakan UN, siswa tidak perlu lagi mengerjakan pada kertas jawaban yang kemungkinan terjadi kesalahan dalam pemberian nilainya. Dalam ujian masuk perguruan tinggi, sudah ada beberapa perguruan tinggi yang melaksanakan ujian dengan menggunakan komputer, biasa disebut Computer Best Test (CBT). Dengan CBT ini calon mahasiswa perguruan tinggi tertentu yang menggunakan CBT bisa mengetahui langsung nilai yang diperolehnya dan cara mengerjakannya pun tidak susah karena tinggal klik saja pada jawaban ynag disediakan, jadi tidak perlu susah payah melingkari seperti UN sekarang. Beberapa software seperti Lectora Inspire juga menyediakan berbagai macam tipe soal, selain tipe pillihan ganda yang selama ini dipakai sebagai soal dalam UN, tentunya ini juga bisa memperluas ranah dan aspek penilaian dalam pengukuran evaluasi pembelajaran. Dengan begitu tingkat kesalahannya sangat tipis sekali, tidak seperti UN sekarang yang bisa saja salah dalam pengoreksiannya, padahal jawaban siswa sudah benar. Keharusan untuk membulati jawaban yang tebal dan hitam pun telah menjadi faktor psikologis tersendiri bagi siswa, karena faktor fisik yang melelahkan berdampak pada tingkat konsentrasi mereka. Dengan teknologi tampilan soal-soal ujian pun bisa dibuat semenarik mungkin dengan visualisasai dan audio yang mendukung, sehingga dapat mengurangi tekanan mental dan justru dapat meningkatkan daya konsentrasi siswa.

UN berbasis teknologi tentunya banyak memberikan manfaat dalam berbagai aspek, pemerintah tidak perlu susah-payah untuk mencetak lembar soal dan lembar jawaban lagi yang terkadang proses distribusinyapu selalu bermasalah. Selain itu juga lebih hemat anggaran yang harus dikeluarkan. Dalam konsep penyelenggaraan UN berbasis teknologi maka lembar soal dan jawaban akan diganti dengan perangkat komputer atau perangkat lain seperti laptop, tablet, gadget yang bisa mendukung. Setiap sekolah harus menyediakan perangkat komputer sejumlah peserta didik yang akan mengikuti ujian, sehingga setiap siswa dapat perangkat satu-satu untuk mengerjakan soal UN tersebut. Persoalan komputer ini tentunya bukan permasalahan sulit, mengingat kebutuhan terhadap laboratorium komputer di setiap sekolah adalah hal yang sangat penting dan selama ini pada beberapa sekolah sudah mempunyainya, tinggal bagaimana memaksimalkan dan meratakan fasilitas tersebut.

Setiap masing-masing sekolah penyelenggara UN harus mempunyai satu server yang terhubung dengan server kabupaten, provinsi atau pusat dengan melalui jaringan internet. Melalui server tersebutlah pusat bisa membagiakan soal ke setiap kelas di masing-masing sekolah pada hari pelaksanaan UN. Pihak pengawas ujian pun juga tidak perlu susah-payah untuk membagikan dan mengumpulkan lembar soal dan lembar jawaban, karena semua sudah berbasis teknologi digital. Bahkan siswa, guru dan pengawas langsung dapat mengetahui nilai UN-nya berupa file yang dapat diunduh, sehingga untuk merekap dengan nilai raport untuk menentukan kelulusan siswa seperti pada sistem UN tahun ini juga tidak memerlukan waktu yang lama dan proses yang kompleks.

Konsep pelaksanaan UN berbasis teknologi ini tentunya memerlukan komitmen dan perhatian dari semua pihak baik level sekolah maupun pemegang regulasi kebijakan, mengingat pentingnya UN bukan untuk membebani siswa dan membuatnya menjadi momok yang menakutkan. UN seharusnya mampu menjadi alat pengukuran evaluasi pembelajaran yang tetap menyenangkan dan tetap membuat siswa merasa nyaman dalam melaksanakannya. Sehingga tujuan dan cita-cita mulia pendidikan dapat tercapai dengan maksimal, serta usaha pengembangan dan pendidikan yang telah dilakukan oleh siswa dan guru selama tiga tahun itu membuahkan hasil yang sesuai dengan tujuan awalnya, bukan justru menjadi permasalahan yang tak kunjung usai.
Sumber gambar: kabar24.bisnis.com
(Mustofa)
Edisi Cetak: Buletin Lamperan Edisi III/ September/ 2014 

Post a Comment

0 Comments