Righ Header

Kesalahan Persepsi tentang idiom gaptek





A : Bro, gue punya foto keren nih ???

B : Apaan siiih ???

A : Penampakan hantu sungai gajah wong, lihat niiih hantu kepalanya gak ada

B : Haaaah gitu ajaa kok heraan. Pakai Photoshop gue bisa bikin penampakan hantu seluruh Indonesia yang lebih serem dari film-film hantu cabul yang sering loe tonton tuu.

A : Apa Photoshop ???? emang Photoshop bisa buat nglihat hantu ????

B : ???? (meredam emosi mau ngatain “gaptek banget sih loe “ gak tega sama temen sendiri)

Istilah gaptek mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, apalagi dengan adanya ilmu dan teknologi yang semakin berkembang di era sekarang. Penggunaan idiom gaptek pun sudah menyeluruh hampir disemua kalangan usia mulai dari usia anak, remaja hingga dewasa. Akan tetapi perlu kita ketahui bersama saat inipenggunaan idiom gaptek mulai melenceng dari makna yang sebenarnya. Hal ini dapat dimaklumi karena persepsi setiap orang terhadap idiom gaptek itu sendiri berbeda-beda. Masyarakat banyak mengartikan bahwa gaptek adalah singkatan dari gagap teknologi, tentunya perlu pemaknaan yang lebih luas untuk kata yang sering dipakai untuk mengaitkan seeorang terhadap kemampuan penguaasan teknologi. Untuk itu perlu ada pemaknaan ulang agar penggunaan idiom ini mampu memberikan pengaruh positif bagi masyarakat, serta istilah gaptek ini tidak hanya menjadi kata-kata yang digunakan untuk mengatai seseorang saja, tetapi dibalik itu seharusnya mampu memberikan semangat perubahan pada pengunanya. Dengan begitu semoga nantinya pembaca tidak terjebak dalam persepsi yang salah mengenai idiom gaptek.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa gaptek adalah kata yang sering diungkapkan seseorang untuk mengatakan seseorang yang lain bahwa dia tidak menguasai keahlian atau aplikasi tertentu khususnya dalam bidang komputer.

Gaptek sebenarnya adalah singkatan dari gagal peka teknologi bukan gagap teknologi. Artinya orang yang gaptek bukanlah orang yang tidak update teknologi tetapi orang yang gaptek adalah orang yang tidak bisa memanfaatkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, seseorang yang sehari-hari bekerja sebagai guru SMA bisa dikatakan gaptek kalau tidak dapat memanfaatkan teknologi yang ada di dalam setiap pembelajarannya. Meskipun guru ini bisa mempunai laptop atau PC yang canggih, gadget model terbaru dan sebagainya. Namun teknologi yang ia punyai itu lebih bersifat sebagai gaya hidup saja, dan demikian juga cara menggunakan teknologi tersebut hanya sebatas untuk kesenangan saja, bahkan tidak jarang hanya untuk gengsi. Misalnya di dalam ruang kelas tersedia LCD dan proyektor tetapi guru tersebut tidak bisa menggunakannya. Karena keterbatasan kemampuannya yang tidak menguasai software yang dapat memanfaatkan fasilitas tersebut. Sedangkan guru yang belajar aplikasi atau software komputer yang memang mendukung profesinya seperti Ms-Powerpoint, Lectora Inspire dan Adobe Flash dan dapat menerapkannya dalam pembelajaran dikelas maka guru tersebut bukanlah guru yang gaptek.

Sekarang tidak sedikit kita temui orang yang mengaku bebas dari virus gaptek dengan menunjukkan atau memperlihatkan handphone, komputer dan laptopnya yang selalu gonta-ganti setiap ada produk yang baru. Mereka beranggapan bahwa orang gaptek adalah orang yang tidak mengupdate barang elektroniknya setiap tahun. Kalau saja makna gaptek yang sebenarnya seperti itu maka hanya orang dari golongon tertentu saja yang bebas dari virus gaptek.

Sebaliknya orang yang tidak memiliki barang elektronik pun seperti handphone dan komputer bisa dikatakan terbebas dari virus gaptek kalau orang tersebut bisa memanfaatkan teknologi yang ada dalam kehidupannya. Sebagai contoh seperti tukang becak yang pandai dalam memanfaatkan media sosial facebook untuk menawarkan jasa layanannya. Dia tak harus memiliki barang elektronik itu, karenabisa melalui warnet misalnya. Fenomena media social ini telah mengejala, terlebih dunia pelajar dan mahasiswa, namun masih sedikit yag dapat memanfaatkan secara bijaksana. Sehingga media sosial hanya digunakan untuk sekedar berkeluh kesah dan curhat yang tidak ada manfaatnyaselain membuka mengumbar aibnya sendiri agar diketahui orang banyak. Masih sedikit pengguna media social yang dapat memanfaatkannya untuk ruang pendidikan, seperti forum diskusi tema-tema tertentu yang terkait dengan problematika pendidikan.

Sebagai simpulan, orang yang bebas dari virus gaptek adalah orang yang menguasai kemajuan teknologi denga cara mempelajari penggunaannya sehingga bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk menunjangdan memudahkan kehidupan sehari-harinya. Bukan sekedar orang yang selalu mengikuti perkembangan teknologi dengan membeli produk tersebut hanya untuk bergaya, serta menggunakannya hanya untuk kesenangan semata tanpa berusaha mempelajari manfaat apa yang dapat diambil untuk dapat digunakan guna menujang profesi dan kehidupannya.

Muhammad Nur Fadhli  

Post a Comment

0 Comments